Santriwati Ini Buka Rahasia Agar Aman Bermain Sepak Bola Api

Menurutnya, tak butuh berlatih lama dalam memainkan atraksi ini. Pesantren tempatnya menuntut ilmu memang sering memainkan sepakbola api.

Santriwati Ini Buka Rahasia Agar Aman Bermain Sepak Bola Api
rahdyan trijoko pamungkas
Bermain Bola Api 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Sejumlah santri telah memainkan sepakbola api sebelum Istighotsah Kebangsaan Hari Santri Nasional (HSN) 2016 di plaza Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (21/10) malam.

Tak hanya santri putra, beberapa santri putri ikut bermain.

"Tidak ada perasaan takut menendangnya. Bermodalkan keyakinan dan doa, saya dapat memainkan bola api," ujar Aisma Laila Nur Kamilia, santriwati dari Ponpes Az Zuhri, Ketileng.

Menurutnya, tak butuh berlatih lama dalam memainkan atraksi ini. Pesantren tempatnya menuntut ilmu memang sering memainkan sepakbola api.

"Persiapannya mungkin sekitar satu minggu. Saya bermain tak pakai apa pun, termasuk minyak zaitun, karena licin," papar Aisma.

Beberapa pemain sepakbola api memang mengoleskan minyak zaitun ke kaki sebelum beraksi. Tak terkecuali Yusuf Faizin, santri Ponpes Life Skill Daarun Najaah, Beringin, Wonosari, Kecamatan Ngaliyan.

Dia terlihat lincah menggiring bola api. Tidak merasakan hawa panas dari bola itu?

"Jika ditanya, rata-rata orang bilang panas. Tapi kami yakin dan percaya dengan kekuatan doa dari pengasuh pondok kami," tutur Yusuf.

Karena sering memainkannya, Yusuf tak merasa kesusahan. Justru kesulitan memainkannya ketika nyala api mulai membesar.

Dia kadang khawatir bola api itu membahayakan orang lain atau penonton. Mereka mungkin saja beranggapan alat bermain itu tak berbahaya.

"Bola api ini terbuat dari kelapa tua yang direndam dalam minyak tanah selama tiga hari. Sebelumnya seratnya diambil," papar dia.

Setiap tim yang memainkannya terdiri atas empat orang. Yusuf merasa senang bisa berpartisipasi dalam rangkaian peringatan HSN yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober itu.

"Semoga kami para santri lebih giat memperdalam ilmu dan pengabdian. Ilmu yang kami pelajari di pesantren akan sangat berguna pada saat kami kembali ke masyarakat," jelas dia.

Peserta Istighotsah juga disuguhi penampilan parade musik gamelan Jawa terbangan dan drumband pelajar SMP-SMA Nasima. Ada pula tari sufi dan tari saman khas Aceh.

Adapun pembacaan shalawat nariyah dan Istighotsah dipimpin Habib Jakfar Al Musawwa dan KH Dzikron Abdullah. Tema HSN 2016 adalah Merajut Kebhinekaan dan Kedaulatan Indonesia. (*)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved