Tahun Baru Masih Jauh Namun Pedagang Terompet Ini Sudah Kebanjiran Pesanan

Warseno (43), seorang perajin terompet di Kampung Mojo RT 02 RW 04 Semanggi Solo, Jumat, mengatakan jumlah pesanan kerajinan terompet berbagai jenis

Tahun Baru Masih Jauh Namun Pedagang Terompet Ini Sudah Kebanjiran Pesanan
TRIBUN JATENG/HEMAWAN ENDRA
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM - Perajin terompet di Kampung Mojo, Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon Solo, mulai kebanjiran pesanan untuk menyambut Tahun Baru 2017.

Warseno (43), seorang perajin terompet di Kampung Mojo RT 02 RW 04 Semanggi Solo, Jumat, mengatakan jumlah pesanan kerajinan terompet berbagai jenis meningkat hingga mencapai 5.000 buah per bulan.

Kerajinan terompet buatanya yang dua jenis, yakni kualitas biasa dan berbentuk ular naga, pesanan pada bulan-bulan sebelumnya rata-rata hanya sekitar 1.500 per bulan.

"Pesanan terompet bulan ini, ada meningkat tiga kali lipat lebih. Terompet ini, untuk persiapan menyambut Tahun Baru 2017," kata Warseno yang mengaku menggeluti bisnis ini sejak 1990 hingga sekarang, Jumat (21/10/2016).

Ia mengaku memproduksi terompet khusus untuk melayani pelanggan, untuk persiapan perayaan Tahun Baru. Oleh karena itu, Warseno mengaku sudah mulai membuat terompet sejak awal Agustus untuk memenui permintaan konsumen.

"Kami bisnis keluarga ini, kemampuan produksi rata-rata hanya sekitar 1.500 per bulan, dan pesanan sudah mencapai 5.000 terompet," katanya.

Bahkan, Warseno sangat optimistis permintaan terompet hingga Desember mendatang bisa mencapai sekitar 15.000 buah.

Terompet buatan Warseno dijual dengan harga bervariasi, tergantung bahan baku dan tingkat kerumitan produksinya. Terompet biasa dijual eceran sekitar Rp5.000 per buah, sedangkan terompet jenis naga mencapai Rp15.000.

Menurut dia, bahan baku terompet tidak ada masalah karena semuanya mudah dicari dijual di toko-toko di Solo dan sekitarnya.

"Setiap terompet bisa mendapat keuntungan sekitar 30 persen dibanding biaya produksinya," kata Warseno yang mengaku asli asal Bulukkerto Wonogiri.

Ia mengatakan kerajinan terompet tersebut merupakan bisnis keluarga yang sudah turun menurun dari orangtuanya.

"Kami memproduksi terompet tahun ini, dengan modal sekitar Rp15 juta, dan keuntungkan yang diperoleh sekitar 30 persennya. Pelanggan merupakan pedagang yang datang dari wilayah Solo dan sekitarnya," kata Warseno. (ANTARA)

Editor: galih pujo asmoro
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved