Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Cuaca Buruk, Petambak Udang Vaname di Brebes Rugi Ratusan Juta

Hujan yang turun terus menerus berdampak pada panen udang vaname di Kabupaten Brebes

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Hujan yang turun terus menerus berdampak pada panen udang vaname di Kabupaten Brebes. Kondisi cuaca berdampak pada hasil panen karena pertumbuhan udang yang tidak normal. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,BREBES - Hujan yang turun terus menerus berdampak pada panen udang vaname di Kabupaten Brebes. Kondisi cuaca berdampak pada hasil panen karena pertumbuhan udang yang tidak normal.

Karena udang tumbuh tidak normal, hasil panen turun hingga 50 persen pada musim panen kali ini.

Seorang petani tambak udang di Desa Kertabesuki, Kecamatan Wanasari, Brebes, Suwiryo, mengaku biasanya panen udang vaname pada usia empat bulan dengan hasil 12 ton pada kolam seluas 10.000 meter persegi miliknya.

"Saat ini, sudah tiga bulan saja, masih kecil-kecil. Daripada rugi kami panen dengan hasil seadanya. Biasanya kami panen 12 ton, kini hanya 5 ton pada kolam 10.000 meter persegi," kata Suwiryo, Senin (24/10/2016).

Pada saat awal, ia menebar udang 250 ribu di satu kolam tambak seluas 5000 meter persegi atau 500 ribu pada kolam seluas 10.000 meter persegi. Namun, kata dia untuk ukuran petak kolam itu hanya bisa memanen 5 ton selama tiga bulan yang biasanya 12 ton selama empat bulan.

Ia tidak mau menunggu lebih lama hingga empat bulan karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Ia khawatir, perkembangan udang tidak akan meningkat meskipun diberikan pakan dengan frekuensi normal seperti biasanya.

Bahkan, ia takut, jika dipanen selama empat bulan, lebih banyak lagi udang yang mati. Daripada merugi banyak, ia lebih memilih panen dini.

"Ini saja sudah rugi Rp 150 juta dengan kolam seluas 10.000 meter persegi masa panen tiga bulan. Bagaimana kalau dipanen saat empat bulan, bakal merugi lebih banyak lagi karena ditambah biaya operasional tiap harinya," ujarnya.

Suwiryo mengatakan, hujan yang turun dengan intensitas tinggi membuat suhu turun dan berimbas pada udang yang tidak bisa tumbuh normal karena serangan penyakit seperti white spot dan mio.

Suhu dingin juga memicu pertumbuhan plankton biru dan merah yang merugikan petani.

"Saat cuaca cerah, udang naik ke permukaan air untuk makan. Namun kalau ada angin atau hujan, udang langsung turun ke dasar air. Sehingga pakan masih utuh, padahal sudah diberikan pakan dengan frekuensi normal," jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dialami semua petani tambak yang tergabung dalam Kelompol Petani Tambak Udang Mukya Sari Desa Kertabesuki, Brebes.

Hal senada juga diungkapkan petani tambak lain, Kuntadi, asal Desa Sawojajar, Brebes. Cuaca saat ini tidak tentu, terkadang cerah, kemudian tiba-tiba angin kencang bertiup diikuti hujan.

"Kondisi seperti itu tidak bagus untuk pertumbuhan udang. Angin dan hujan sangat mengganggu suhu air. Terkadang suhu naik, kadang turun," jelasnya.

Belum lagi, gangguan predator burung pemangsa udang yang biasa terbang di atas tambak. Saat udang naik ke permukaan untuk makan, terkadang burung tersebut menyambarnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved