Breaking News:

Opini

Melestarikan Budaya Srawung

Srawung adalah sebuah istilah Jawa yang mengandung arti kumpul atau pertemuan yang dilakukan lebih dari satu orang atau kelompok.

Tribun Jateng
Y Gunawan 

TRIBUNJATENG.COM -- Srawung adalah sebuah istilah Jawa yang mengandung arti kumpul atau pertemuan yang dilakukan lebih dari satu orang atau kelompok. Dalam tradisi masyarakat pedesaan, istilah ‘srawung’ sudah akrab di telinga mereka, karena hal itu merupakan media untuk saling bercerita tentang realitas kehidupan.

Srawung mengandung filosofi yang mendalam. Srawung tidak hanya dimaknai sebuah perjumpaan. Dari srawung itulah ada sebentuk rasa yang muncul, yakni belajar, menimba inspirasi (ngangsu kawruh).

Dengan demikian, srawung merupakan bagian dari tatanan nilai yang melekat secara khas dalam khazanah kesadaran di kalangan masyarakat. Dalam srawung, masyarakat bisa saling ngudoroso atau menyampaikan realitas yang terjadi di sekitarnya. Tidak hanya apa yang ada dalam pikiran, tetapi apa yang ada dalam perasaan mereka pun semua bisa diungkapkan.

Srawung juga merupakan pengalaman-pengalaman batin yang kadang sulit dibahasakan, tapi terasa di hati. Maka, dengan adanya srawung inilah banyak permasalahan dalam realitas kehidupan ini bisa dibicarakan, dicarikan solusi secara bersama.

Didorong atas kerinduan ibu pertiwi Indonesia yang damai dan penuh toleran, hampir seratus mahasiswa dari perguruan tinggi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta bertemu. Mereka duduk bersama menggelar kegiatan “Angkringan Lintas Iman & Tour Kampung”.

Apresiasi pantas diberikan kepada Campus Ministry Universitas Sanata Dharma yang memfasilitasi kegiatan ini pada Sabtu-Minggu, (29-30/10). Acara Angkringan Lintas Iman ini mengangkat tema: “Bersama Merawat Keberagaman”.

Kampus Srawung Kampung

Menjelang kegiatan Pilkada 2017 di beberapa tempat, suhu politik memanas. Suasana masyarakat pun ikut bergejolak. Kaum muda sebagai kaum intelektual yang sedang menggembleng diri dalam dunia kampus, perlu menyadari diri sebagai bagian dari keluarga besar umat manusia kendati berbeda agama dan etnis.

Kampus adalah rumah belajar. Di sana banyak hal yang bisa dipelajari. Termasuk belajar hidup bertoleransi. Belajar merawat keberagaman. Belajar menjadi pribadi nasionalis sekaligus religius. Juga menjadi pribadi cerdas yang humanis.

Bangsa ini memiliki seorang pahlawan yang nasionalis sekaligus religius. Oleh Presiden Soekarno ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal Semarang. Ia lahir 120 tahun yang lalu, tepatnya, 25 November 1896. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ namanya.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved