Santri-santri Bawa 100 Pesan Kebangsaan yang Dituliskan di Banner Keliling Kabupaten Kudus

Mlaku-mlaku Bareng Santri (MMBS) yang diselenggarakan Pengurus Cabang NU Kudus pada Minggu pagi (13/11) penuh dengan pesan-pesan kebangsaan.

Santri-santri Bawa 100 Pesan Kebangsaan yang Dituliskan di Banner Keliling Kabupaten Kudus
Tribun Jateng/Istimewa
Suasana Mlaku-mlaku Bareng Santri (MMBS) yang diselenggarakan Pengurus Cabang NU Kudus berlangsung di kabupaten tersebut, pada Minggu pagi (13/11/2016). 

TRIBUNJATENG.COM- Mlaku-mlaku Bareng Santri (MMBS) yang diselenggarakan Pengurus Cabang NU Kudus pada Minggu pagi (13/11) penuh dengan pesan-pesan kebangsaan dan kedamaian. Pihak panitia menyiapkan 100 pesan yang ditulis di banner yang dibawa oleh peserta MMBS.

Ketua PC. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kudus, HM. Sarmanto Hasyim mengutarakan hal itu saat ditemui usai kegiatan MMBS.

‘’MMBS ini selain untuk menghormati jasa-jasa para kiai dan pahlawan, juga ingin menunjukkan bahwa Kudus itu benar-benar Kota Santri,’’ katanya, dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun Jateng.

Sarmanto mengemukakan, santri di Kudus ini adalah salah satu pilar penting dalam pembangunan daerah.

‘’MMBS adalah salah satu sarana untuk silaturahmi santri para santri Kudus yang jumlahnya sangat besar. Kegiatan ini saja, pesertanya lebih dari 30 ribu peserta,’’ paparnya.

Sementara itu, berbagai pesan kebangsaan yang disampaikan oleh para santri yang mengikuti MMBS, antara lain NKRI harga mati, Nusantara (NU, Santri dan Tentara Bersatu), Kudus No Drugs, Kudus Nol % Alkohol, Kudus No Karaoke, dan Kedepankan Islam Ramah Bukan Islam Marah,’’ lanjutnya menambahkan.

Didampingi ketua panitia Hidayat Noor, Sarmanto menambahkan, beragam pesan ini menjadi penting, karena banyak kasus-kasus sosial yang merebak, khususnya peredaran narkoba yang merajalela saat ini, hingga persoalan yang mengarah pada disintegrasi.

‘’Melalui MMBS ini, kami para santri juga ingin mengingatkan, bahwa Indonesia ini adalah negara yang masyarakatnya beragam (plural). Kendati Islam merupakan agama mayoritas yang dipeluk oleh rakyatnya, namun oleh founding fathers tetap memiliki Republik sebagai bentuk negara, karena melihat realitas sosio kulturah hingga agama yang juga beragam,’’ tuturnya.

Pada kesempatan itu Sarmanto juga berpesan, agar orang Islam di Indonesia tidak mudah dipecah belah dengan berbagai isu yang berkembang. ‘’Islam itu agama damai, maka mesti mengendepankan Islam ramah, bukan menjadi Islam yang pemarah,’’ tegasnya.

Sementara itu, Ketua panitia Hidayat Noor menjelaskan peserta yang mencapai 30 ribu lebih ini berasal dari para santri di lingkungan pondok pesantren dan madrasah-sekolah NU di Kudus. Mereka penuh semangat menyusuri jalan dari Alun-alun Simpang 7 Kudus ke selatan melewati Jl. A. Yani, lampu merah utara Kudus Plaza (Matahari) ke barat, lalu menuju Jl. Wachid Hasyim, sampai di lampu merah Pekojan ke timur dan finish kembali di Alun-alun Simpang 7.

Halaman
12
Penulis: yayan isro roziki
Editor: a prianggoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved