VIDEO Orang-orang Bergelimpangan di Jalan Slamet Riyadi Hebohkan Pengunjung CFD Solo
Sejumlah orang bergelimpangan di Jalan Slamet Riyadi Solo ditambah suara sirine meraung keras menyita perhatian pengunjung CFD, Minggu (13/11/2016).
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Suharno
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Sejumlah orang bergelimpangan di Jalan Slamet Riyadi Solo ditambah suara sirine meraung keras menyita perhatian pengunjung CFD, Minggu (13/11/2016). Sejumlah orang berpakaian tentara bergelimpangan di jalan setelah badannya tertembus peluru.
Tak beberapa lama, pejuang berbendera merah putih bersorak kegirangan karena menang dan berhasil menangkap sejumlah orang asing berpakaian tentara.
Peristiwa ini merupakan adegan drama pertempuran empat hari tentara Indonesia melawan Belanda yang melancarkan agresi militer di Kota Solo pada tanggal 7-10 Agustus 1949.
"Jadi ini dalam rangkaian memperingati hari Pahlawan 10 November 2016. Kami membuat drama tentang serangan empat hari di Solo," ujar Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0735 Surakarta, Mayor Infantri Didin Nasrudin.
Didin menjelaskan usai menguasai Yogyakarta yang saat itu merupakan ibukota Republik Indonesia, Belanda kemudian mulai memasuki Solo.
Usai membebaskan sejumlah daerah lainnya yang terkena agresi militer, para pejuang, tentara dan pelajar bersama Letnan Kolonel Slamet Riyadi melancarkan serangan dari pagi hingga malam.
"Drama ini juga menceritakan Slamet Riyadi yang merupakan pahlawan kelahiran Solo. Juga peperangan sengit di Serengan hingga Benteng Vastenburg dimana serangan digagas di Banjarsari yang kini berdiri Monumen 45 Banjarsari," sambung Kasdim.
Kasdim mengatakan acara tersebut sengaja digelar di Jalan Slamet Riyadi dan ditonton banyak warga supaya dapat mengedukasi sekaligus mengingatkan kembali perjuangan para pahlawan.
"Seringkali masyarakat lupa. Bahkan pelajar yang seharusnya mendapatkan pelajaran ini mengaku tidak tahu jika ada serangan umum empat hari di Solo yang sangat berperan penting untuk meningkatkan nilai tawar Indonesia di Konferensi Meja Bundar," tandasnya.
Pada drama ini, tidak hanya diikuti oleh anggota Kodim 0735, Linmas, pelajar, komunitas Pagar Nusa, tetapi juga warga negara Belanda, Unrath Andreas yang memerankan tokoh pemimpin tentara Belanda yang menduduki Solo, Kolonel Van Ohl.
"Saya sangat senang bisa terlibat di acara ini dan sekaligus belajar tentang sejarah masa lalu Belanda maupun Indonesia," papar Andreas. (tribunjateng/suharno)