Mengenang Legenda Gudeg, Yu Djum Tetap Memasak di Usia Senja

Yu Djum menjadi viral di media sosial. Banyak public figure berbelasungkawa atas kepergian Yu Djum di usia 81 tahun.

Mengenang Legenda Gudeg, Yu Djum Tetap Memasak di Usia Senja
Tribun Jogja/Hamim Thohari

TRIBUNJATENG.COM -- Kabar meninggalnya pemilik warung gudeg legendaris di Yogyakarta, Djuhariah atau lebih dikenal dengan sebutan Yu Djum menjadi viral di media sosial. Banyak public figure berbelasungkawa atas kepergian Yu Djum di usia 81 tahun.

Nadia (25) bergegas meninggalkan rumahnya di daerah Condongcatur, Sleman menuju warung Gudeg Yu Djum di Karangasem, Depok, Sleman, Yogyakarta. Baru sampai di jalan menuju warung, mobilnya terhenti karena banyak orang berkerumun. Ia terkejut setelah mengetahui legenda pembuat gudeg kering tersebut tutup usia. 

"Dari dulu kalau makan gudeg di Yogyakarta ya ke Yu Djum, dibela-belain jauh sekalipun pasti beli di warung Yu Djum," ungkap Nadia, Selasa (15/11) pagi.

Menurutnya, ketenaran gudeg Yu Djum lantaran berjenis kering sehingga awet bila dijadikan oleh-oleh. Setelah berpulangnya Yu Djum, Nadia berharap cita rasa gudegnya tidak berubah. "Semoga generasi penerusnya bisa menjaga cita rasa Gudeg Yu Djum," cetusnya.

Cucu pertama Yu Djum, Sigit Alfianto menjelaskan, sang nenek meninggal dunia di RS Bethesda Yogyakarta pada Senin (14/11) petang sekitar pukul 18.00 WIB. Almarhumah berkali-kali masuk rumah sakit dan terakhir pada Sabtu (12/11).

"Ya namanya juga orang sudah tua, jadi sakitnya orang tua," tutur Sigit.

Sejak berembus kabar Yu Djum meninggal, rumah duka di Jalan Kaliurang Km 4,5 Karangasem, Mbarek, Depok, Sleman didatangi ratusan kerabat dan pelayat. Perempatan Jalan Kaliurang-Selokan Mataram sempat macet karena banyaknya pelayat.

Sejak Senin malam, kabar meninggalnya Yu Djum ramai diperbincangkan di media sosial. Pakar kuliner Bondan Winarno melalui kicauan di twitter mengungkap rasa duka atas kehilangan pejuang penjual makanan keliling, Yu Djum. Belasungkawa juga diucapkan pengurus klub sepakbola PSS Sleman yang menyebut Yu Djum adalah satu diantara beberapa sponsor klub berjuluk Super Elja itu.

Yu Djum semasa hidup terkenal sebagai sosok tegas. Sigit menuturkan, Yu Djum selalu menekankan keluarganya untuk hidup mandiri. "Beliau itu bisa dibilang galak, tapi kita semua tahu kalau galaknya beliau itu untuk mendidik anak dan cucu," ungkap 

Yu Djum juga dikenal seorang pekerja keras. Di tengah sebutannya sebagai pengusaha gudeg tersukses di Yogyakarta, ia tidak pernah terbuai.

Tak heran, Gudeg Yu Djum telah memiliki banyak cabang dan melayani pesanan hingga keluar kota. Gudeg Yu Djum menjadi referensi para wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta. Yu Djum pula lah yang menjadi pelopor sentra gudeg Wijilan.

Teladan

Yu Djum telah menjajakan gudeg sejak tahun 1950an. Ia dulu berjualan membawa gendongan dan berjalan kaki dari rumahnya di Jalan Kaliurang menuju daerah Wijilan Yogyakarta. Baru berikutnya ia mempunyai kios kecil. Ia kemudian memelopori berdirinya sentra gudeg. Ketua Paguyuban Gudeg Wijilan, Chandra Setiawan Kusuma, menyebut Yu Djum adalah sosok teladan.

"Para pedagang di Wijilan yang mayoritas generasi kedua mengagumi kegigihan Yu Djum yang melegenda. Yakni, bagaimana Yu Djum tetap bekerja tak kenal lelah bahkan hingga akhir hayatnya. "Terakhir saat saya berkunjung ke rumahnya, beliau masih memasak gudegnya sendiri. Luar biasa, walau sudah tua tapi beliau tetap konsisten bekerja," pungkasnya. (Tribun Jogja/Ikrar Gilang Rabbani)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved