Breaking News:

Ngopi Pagi

Taksi Gelap

Persoalan taksi ilegal seolah tak pernah habis meski berbagai cara dilakukan untuk menertibkan dan menghalau mereka di area bandara, termasuk Bandara

Penulis: tri_mulyono | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/dok
TAKSI RESMI DI BANDARA A YANI SEMARANG 

TRIBUNJATENG.COM --  Persoalan taksi ilegal seolah tak pernah habis meski berbagai cara dilakukan untuk menertibkan dan menghalau mereka di area bandara, termasuk Bandara A Yani Semarang. Pengelola bandara dan aparat telah berkali-kali menggelar penertiban dan merazia.

Namun, keberadaan mereka selalu ada, bahkan jumlahnya semakin banyak. Ya, meski dikenal sebagai taksi gelap yang berkonotasi negatif, angkutan ini memiliki pangsa pasar tersendiri.

Selain ngetem di bandara, taksi ilegal itu juga bisa dipesan melalui telepon. Sebelum sampai ke bandara, mereka telah dihubungi pelanggannya. Ada juga taksi gelap yang ngetem cari penumpang di bandara. Hal itu yang menyebabkan taksi gelap sulit untuk diberantas. Ditambah lagi, tingkat pengguna layanan pesawat terbang kian meningkat. Jika sebelumnya dalam sehari hanya ada 3.000 penumpang di Bandara A Yani, kini melonjak hampir dua kali lipat, atau sekitar 5.200 hinga 5.400 penumpang per hari. Sedangkan jumlah taksi Bandara Ahmad Yani saat ini sekitar 100 unit. Jumlah tersebut dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa bandara.

Pengelola Bandara A Yani bisa belajar dari bandara-bandara lain dalam manajemen transportasi. Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, misalnya, akhirnya melegalisasi ratusan taksi ilegal tersebut. Model penerapan kendaraan sewa ini juga telah sukses di lima bandara di Indonesia seperti Halim Perdanakusuma, Palembang, Lampung, Surabaya, Solo, dan Yogyakarta. 

Taksi ilegal itu diajak bergabung dalam koperasi taksi bandara resmi. Konsekuensinya, sopir mobil sewa ini sudah tidak bebas lagi mencari penumpang di bandara. Mereka harus mengikuti aturan, mengambil penumpang di area yang dibatasi. Para sopir biasanya berbaris dipinggir separator jalan sambil berteriak, melompat dengan tangan memegang papan bertuliskan "Taksi Avanza, Taksi Xenia."

Ide pengelola Bandara A Yani akan menghadirkan armada angkutan umum tujuan Bandara Ahmad Yani Semarang-Demak, juga bagus. Ketersediaan angkutan umum massal berhasil diterapkan di Bandara Juanda Surabaya. Angkasa Pura bekerjasama dengan dinas perhubungan setempat menyediakan bus Damri untuk mengangkut penumpang tujuan luar kota.

Di sebagian besar bandara di Indonesia, pengelolaan taksi diserahkan kepada koperasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ini bukan alasan memberikan pelayanan prima di bandara. Penumpang tentu tidak mau tahu siapa yang mengelola angkutan bandara. Mereka hanya membutuhkan pelayanan dan kenyamanan.

Menjadi tugas pengelola bandara dan stakeholder untuk mensinkronkan antara kepentingan bisnis pengelola bandara dan pengelola taksi. Koperasi pengelola taksi juga pasti ingin survive dalam mengelola angkutan. Ketika kebijakan pengelolaan taksi sama-sama menguntungkan pasti mereka mengikuti.

Persoalan akan timbul kalau ada oknum-oknum yang ingin memperkaya diri dengan bermain mata dengan pengelola taksi. Oknum-oknum itu pasti tidak suka kalau manajamen taksi bandara berbasis online, misalnya. Mereka lebih suka taksi bandara dikelola dengan cara jadul karena membuka peluang pelanggaran.

Persoalan taksi bandara bukan masalah sepele. Bandara adalah pintu gerbang masuknya pendatang dan orang asing. Citra pelayanan sebuah kota bisa dirasakan dari hal kecil seperti pelayanan taksi bandara. Dan transportasi berkaitan langsung dengan mobilitas warga kota. Transportasi yang baik akan meningkatkan level produktivitas warganya. Manajemen transportasi menjadi salah satu tolok ukur apakah sebuah kota bisa disebut kota cerdas (smart city) atau kota bodoh. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved