BNI Gandeng Pemilik Toko Kelontong sebagai Agen Layanan Keuangan Digital

Saat ini pihaknya memiliki sekitar 2.800 agen BNI 46. Mereka tersebar di Kota dan Kabupaten Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Tegal, Jepara, dan Cepu

BNI Gandeng Pemilik Toko Kelontong sebagai Agen Layanan Keuangan Digital
KONTAN/ Daniel Prabowo
Gedung BNI 

TRIBUNJATENG.COM- Bank Nasional Indonesia (BNI) Kanwil Semarang menggandeng pemilik toko kelontong yang biasa menjual kebutuhan pokok sebagai agen layanan keuangan digital (LKD). Diharapkan, lewat agen yang diberi nama Agen BNI 46 ini, pelayanan kepada masyarakat yang tinggal di pelosok terpenuhi.

"Agen BNI 46 ini kami rekrut untuk mendukung transaksi inklusif, gerakan transaksi nontunai yang dicanangkan Bank Indonesia (BI). Di agen BNI 46, masyarakat bisa membuka rekening, penarikan, setor, bayar listrik, air, juga pulsa telepon," kata Bussines and Performance Channeling Grup Bank Nasional Indonesia (BNI) Kanwil Semarang, Herry D Munawir, kepada Tribun Jateng, Senin (5/12).

Herry mengatakan, saat ini pihaknya memiliki sekitar 2.800 agen BNI 46. Mereka tersebar di Kota dan Kabupaten Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Tegal, Jepara, dan Cepu.

"Bagi masyarakat, tak perlu datang ke bank kalau ingin melakukan transaksi, cukup ke warung. Sementara, bagi agen, kami memberi bagi hasil dari setiap transaksi," jelasnya.

Untuk menjadi agen BNI 46, Herry mengatakan, pemilik toko kelontong cukup mengajukan permohonan sebagai agen dan melampirkan surat keterangan usaha dari desa/kelurahan yang menyatakan usahanya masih berjalan.

Layanan keuangan secara digital juga digalakkan Bank Central Asia (BCA), bahkan sebelum Bank Indonesia (BI) mendorong adanya LKD.

"Kami sudah lama menjalankan. Masyarakat bisa melakukan transaksi apapun lewat ATM (anjungan tunai mandiri--red), atau menggunakan debet di toko modern seperti alfamart dan indomaret," kata Kepala Kantor BCA Cabang Bangkong Semarang, Mulyono, Senin (5/12).

Meski begitu, dia mengakui, layanan ini belum menjangkau pelosok. Dia beralasan, masyarakat di desa lebih menyukai transaksi secara tunai. Padahal, Mulyono mengatakan, transaksi nontunai lebih menguntungkan. Di antaranya, warga tak perlu antre di bank sehingga membutuhkan lebih banyak waktu.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BI Wilayah Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir, mengungkapkan, upaya meningkatkan pelayanan perbankan dilakukan lewat pencanangan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT).

Gerakan ini memungkinkan nasabah melakukan berbagai transaksi menggunakan uang elektronik yang satu di antaranya bisa dilayani agen LKD.

"Untuk itu diciptakan inovasi bernama LKD (Layanan Keuangan Digital--red) yang merupakan penggabungan antara teknologi di bidang sistem pembayaran dan keterlibatan agen atau pihak ketiga dalam pelaksanaannya," paparnya.

Iskandar mengatakan, di Provinsi Jawa Tengah telah terdapat 7,613 jumlah agen LKD yang beroperasi sebagai perpanjangan tangan bank. (TRIBUNJATENG/CETAK)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: a prianggoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved