Ngopi Pagi
Cita-citamu, Cita-citaku, dan Cita-cita Kita
Sejak kecil, kita sudah diajarkan memiliki cita-cita. Namun hampir pasti, ketika ditanya soal cita-cita
Penulis: rustam aji | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM -- Sejak kecil, kita sudah diajarkan memiliki cita-cita. Namun hampir pasti, ketika ditanya soal cita-cita, tidak ada yang ingin jadi orang jahat.
Rata-rata, cita-cita yang disampaikan adalah ingin jadi dokter, polisi, pengacara, tentara, dosen, guru, wartawan, dll. Sebuah keinginan yang mulia!
Bahkan, dalam perkembangannya, cita-cita itu mempengaruhi pendidikan yang dipilih. Dari pendidikan ini diharapkan nanti akan menuntun pada cita-cita yang ingin dicapai.
Tapi tak jarang pula, di tengah upaya mencapai cita-cita, ada pula yang berubah pikiran hingga mengubah cita-citanya yang diimpikan sejak kecil. Namun dalam konteks itu, mengubah cita-cita bukanlah sebuah kejahatan!
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cita-cita memiliki arti keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran atau bisa juga bermakna tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan).
Intinya, masing-masing orang, ada yang memiliki cita-cita sama, tapi tak jarang banyak pula yang berbeda-beda. Karena cita-cita inilah tak jarang masing-masing orang berbeda pendapat, berdebat, bahkan tak jarang sampai adu fisik. Tetapi, ada pula karena memiliki cita-cita sama, satu dengan yang lain dipersatukan.
Dalam konteks bangsa, ada namanya cita-cita nasional. Sebuah cita-cita yang mampu menyatukan perbedaan cita-citamu dan cita-citaku, menjadi cita-cita kita, karena kita hidup dalam satu bangsa yang berdaulat. Karena itu, tidak seharusnya cita-cita nasional ini diperdebatkan, diperebutkan, dan merasa paling benar sendiri.
Kita boleh berbeda pendapat dan berdebat dalam proses mencapai cita-cita nasional itu. Dan itu wajar! Karena masing-masing kepala orang memiliki caranya sendiri untuk mewujudkan cita-cita dalam bingkai nasionalisme.
Tengoklah bagaimana Faunding Father bangsa ini, Soekarno-Hatta dan para pejuang saling bahu-membahu demi mewujudkan sebuah cita-cita luhur yang namanya Merdeka! Mereka disatukan dalam sebuah cita-cita nasional itu.
Lalu kenapa setelah negara ini merdeka sekian puluh tahun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tiba-tiba saja ada yang merasa tercabik, hingga mendeklarasikan diri yang paling nasionalis.
Kalau NKRI sudah menjadi harga mati, kenapa harus diperdebatkan? Adakah rakyat yang tak nasionalis di negara ini? Barangkali jawabnya hanya koruptor! Koruptor dalam makna, mereka yang sudah tertangkap ataupun para pejabat yang biasa melakukan perilaku koruptif secara sembunyi-sembunyi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karena dia tega “maling” di negeri sendiri hingga menyengsarakan yang lain dan mencederai cita-cita nasional.
Janganlah mencari “panggung” atas nama nasionalisme, karena cita-cita kita sama dalam bingkai NKRI! Keegoisanlah –bila tak mau disebut serakah—yang menjadikan diri kita merasa paling mempunyai negeri ini! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bung-karno_20151111_170224.jpg)