Ini Sosok Pemain Terbaik Piala Soeratin 2016, Pernah Membela Timnas Junior
Bakatnya itu tercium pelatih Indra Sjafri sewaktu menukangi timnas junior. Indra "menemukannya" saat Egy masih bermain di SSB di Medan.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Trofi Piala Soeratin dibawa ke Jawa Tengah oleh Persab Brebes U-17.
Dalam final putaran nasional di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (10/12/2016) malam, Persab menundukkan Askot PSSI Balikpapan 4-1.
Gelar tersebut mengukir sejarah persepakbolaan Kota Bawang lantaran baru pertama juara tingkat nasional.
Titel semakin lengkap karena satu pemain Persab menjadi pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik.
Dialah Egy Maulana Vikri yang mengangkat dua trofi kategori khusus itu.
Nama Egy mencuat karena tidak pernah absen mencetak gol dalam tiap pertandingan.
Pria kelahiran 7 Juli 1990 itu mengoleksi 22 gol dalam tujuh pertandingan di putaran nasional Piala Soeratin.
Terakhir, ia menjebol gawang Balikpapan di final.
Namun, dia mengakui dari semua lawan yang dihadapi dari penyisihan grup, Persib Bandung U-17 yang membuatnya tertantang.
"Di laga final, saya malah bermain tenang. Laga berat justru di semifinal melawan Persib Bandung," ujar penyuka lele goreng sambal hijau itu.
Ternyata bakat sepakbola Egy sudah muncul saat umur empat tahun.
Saat itu, dia memainkan bola plastik pemberian ayahnya.
Saat sudah aktif berjalan, ia pun gemar menendang-nendang bola.
"Ayah yang juga seorang pesepakbola selalu memberikan dorongan untuk terus bermain terbaik," kata pria kelahiran Medan ioi.
Sang ayah bernama Syarifudin, pernah membela PSMS Medan, Petrokimia Gresik dan beberapa tim lain.
Hobi sang ayah menurun, Egy tertarik untuk lebih serius mengolah si kulit bundar.
Dia pun masuk sekolah sepakbola (SSB).
Ada beberapa SSB yang pernah dia sambangi agar bisa belajar pengetahuan mengenai taktik, teknik, dan fisik.
Ia pernah bernaung di sejumlah SSB, di antaranya SSB Asam Kumbang di Medan dan SSB Bina Putra Cirebon.
Egy mempunyai saudara di Cirebon sehingga tahu keberadaan Persab U-17.
Ketika tak ada jadwal latihan atau pertandingan bersama Persab, ia memperdalam ilmu sepakbola di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan.
Egy yang juga penggemar bulutangkis itu lebih sering tinggal di Jawa untuk berkarier dalam sepakbola dibandingkan di kampung halamannya di Sumatera.
Bakat yang dia asah sedari kecil itu sudah membawanya memperoleh sejumlah titel.
Egy sebelumnya meroket bersama timnya, ASIOP Apacinti, di turnamen kelas dunia, Gothia Cup, di Swedia.
Selain ASIOP menjadi juara, Egy menasbihkan diri sebagai pemain terbaik setelah mencetak 28 gol.
Raihan itu membuatnya digadang-gadang sebagai the next star pesepakbola Indonesia.
Mendapat pujian tersebut, Egy tak langsung berbesar kepala.
Ia menyebut pencapaian itu sebagai pelajaran untuk karier selanjutnya.
"Raihan prestasi selama ini menjadi satu pengalaman berharga saya. Menjadi modal untuk karier saya selanjutnya," terang dia.
Bakatnya itu tercium pelatih Indra Sjafri sewaktu menukangi timnas junior.
Indra "menemukannya" saat Egy masih bermain di SSB di Medan.
Ia pernah berkostum timnas U-12, U-14, dan U-16.
Pada kelompok umur yang terakhir, ia belum sempat bertanding lantaran PSSI keburu dibekukan FIFA.
Egy memang memiliki perasaan optimistis akan meraih tapak kejayaan.
Bahkan dia berharap suatu saat dapat membela timnas senior.
"Ya, saya sangat ingin masuk timnas. Mungkin kalau sekarang ikut seleksi timnas U-19 dulu. Baru di waktu mendatang timnas senior," tandasnya.
Ia mengaku betah selama bermain di skuat Jaka Poleng, julukan Persab.
Para pemain dan ofisial tim mudah akrab sehingga ia merasakan kenyamanan.
Di sisi lain, ada hal yang mengejutkan.
Manajer Persab Syaefudin Zuhri mengungkapkan, usai bermain di laga final, Egy justru dimarahi sang ayah lantaran bermain jelek.
"Dia (Egy) mendapat omelan dari ayahnya lewat telepon. Padahal Egy mendapatkan gelar pemain terbaik," kata Syaefudin.
Menurutnya, hal itu merupakan dorongan atau motivasi dari sang ayah kepada anaknya yang sama-sama pernah merumput.
Meski menjadi pemain terbaik, sang ayah meminta agar tidak besar kepala dan cepat puas.
"Omelan ayah kepada anaknya itu merupakan satu motivasi. Egy diharapakan terus terlecut semangatnya dalam bermain sepakbola," imbuhnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/persab-brebes_20161210_225013.jpg)