Minggu, 10 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Icip icip Kuliner

Banyak Mengandung Kalsium, Begini Proses Pembuatan Kerupuk Rambak Khas Kendal

Di Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal terdapat sentra pengolahan kerupuk rambak yang telah ada sejak 12 tahun lalu

Tayang:
Editor: muslimah
Tribun Jateng/Shela Kusumaningtyas
Kerupuk kulit sapi 

TRIBUNJATENG.COM - Di Desa Penanggulan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal terdapat sentra pengolahan kerupuk rambak yang telah ada sejak 12 tahun lalu.

Sang pemilik, Muhtadin mengatakan berguru dari sang paman yang mempelopori kehadiran kerupuk rambak pada tahun 1990-an.

“Pakde saya awalnya justru ikut bekerja ke keluarga kami di tempat pemotongan hewan. Sang istri lalu bikin kerupuk rambak sayur, kalau orang Jawa bilang godril. Ternyata sering rusak karena terlalu mengembang kulitnya. Maka bikinlah kerupuk rambak Wijoyo,” ujar pria yang bertempat tinggal di depan pabrik pengolahan krupuk rambak.

Setelah lima tahun memproduksi kerupuk rambak, akhirnya Disperindag Kendal memutuskan kerupuk tersebut sebagai salah satu ikon kuliner di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang ini.

Tribun Jateng sempat mengintip proses penggorengan dan pengepakan kerupuk rambak yang biasanya dimulai pada pukul 14.00 WIB hingga larut malam.

l

Para pegawai terlihat cekatan dan gesit. Ada yang bertugas mengawasi tingkat kematangan kerupuk. Ada yang memindahkan kerupuk setengah matang ke wajan untuk tahap akhir.

Dikatakan Muhtadin, sapi yang diambil kulitnya haruslah yang berumur satu tahun agar menghasilkan rambak yang gurih.

Pertama-tama, kulit sapi yang telah dilepaskan dari daging sapi, disiram dengan air panas agar lunak dan terbebas dari kotoran. Kulit lalu dipotong memancang kecil-kecil. Kemudian direbus selama satu setengah jam.

Setelah itu, kulit diangkat untuk menuju tahap penjemuran. Muhtadin mengutamakan proses penirisan air yang terkandung di kulit sapi saat dipanaskan di terik matahari selama dua hari. Apabila cuaca tidak mendukung, barulah ia memakai oven untuk mengeringkan kulit sapi.

Menurut Muhtadin, meskipun tidak memengaruhi rasa, proses pengovenan berimbas kepada warna kerupuk rambak.

Kerupuk rambak yang terkena paparan sinar matahari langsung akan berwarna putih muda. Berbeda dengan kerupuk rambak yang masuk dalam pemanasan oven, akan berubah warna menjadi kecoklatan.

Oleh karena itu, Muhtadin memutar akal. Apabila musim kemarau sedang melanda, ia akan mengerahkan karyawannya untuk bekerja ekstra menjemur kulit sapi.

Kulit yang telah dijemur lantas dialihkan ke tahap penggorengan. Terdapat tiga wajan yang difungsikan untuk menggoreng. Wajan pertama berisi minyak yang akan membasahi potongan kulit sapi.

Dalam satu kali penggorengan bisa menghabiskan 19 liter minyak dan 30 kilogram kulit sapi. Setelah tujuh menit diaduk-aduk di wajan pertama, kerupuk setengah matang dipindahkan ke wajan kedua.

Kemudian, kerupuk siap dicelupkan ke wajan ketiga yang berukuran lebih besar. Bahan kerupuk yang tadinya berukuran kecil langsung mengembang membesar dan harus selalu dipantau agar tidak gosong. Para pegawai terkadang bertelanjang dada karena suhu di sekitar perapian sangat panas. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 15 menit, kerupuk sudah siap dikemas.

Diungkapkan Muhtadin, pada mulanya, kulit yang digunakan untuk bahan baku kerupuk rambak adalah kulit kerbau. Lantaran kulit kerbau semakin sulit dicari, maka pada tahun 2009 dipakailah kulit sapi sebagai alternatif bahan pembuatan kerupuk rambak.

Muhatadin menganjurkan masyarakat untuk rutin mengonsumsi kerupuk rambak karena kandungan kalsium dan protein yang tinggi di dalamnya. Rasa gurih tercipta alami dari zat yang ada di kulit sapi.

l

Muhtadin hanya mengimbuhkan bumbu seperti bawang putih, garam, dan penyedap rasa. Kerupuk rambak ini bisa bertahan hingga tiga bulan.

Dalam sehari, ia biasa menyetor ribuan kardus kerupuk rambak berukur 250 gram dan 500 gram di pusat penjualan kerupuk rambak yang ada di sepanjang jalan pantura Kendal.

Kerupuk rambak berukuran 250 gram dihargai dari Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu. Untuk yang ukuran 500 gram dipatok harga sekitar Rp 65 ribu.

Peminat kerupuk rambak akan meningkat jumlahnya tatkala menjelang hari libur sekolah, libur lebaran, dan musim haji. Jika Anda bertandang ke Kendal, jangan lupa nikmati renyahnya kerupuk rambak ini! (Shela Kusumaningtyas/magang tribunjateng)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved