Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kumpulrejo Salatiga Didaulat Jadi Kelurahan Tanpa Kekerasan

Achmad Rofai meluncurkan Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan di Balai Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, Jumat (23/12/2016)

Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
tribunjateng/humas
Bertempat di Balai Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, PJ Wali Kota Salatiga Achmad Rofai meluncurkan Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan, Jumat (23/12/2016) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Bertempat di Balai Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, PJ Wali Kota Salatiga Achmad Rofai meluncurkan Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan, Jumat (23/12/2016) pagi. Peluncuran itu pun sekaligus sebagai penanda didaulatnya Kumpulrejo menjadi kelurahan tanpa kekerasan.

“Kelurahan Kumpulrejo adalah pilot project dalam Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan di Kota Salatiga. Informasi terakhir yang kami terima, direncanakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Yembise bakal ke Kumpulrejo untuk melihat secara langsung program ini pada 30 Desember 2016 mendatang,” kata Rofai kepada Tribun Jateng, Jumat (23/12/2016).

Terpisah, dalam keterangan tertulisnya, Ketua Panitia Bulan Keluarga Tanpa Kekerasan, Arianti Ina Restiani Hunga mengatakan, kegiatan peluncuran tersebut merupakan bagian dari program bersama. Kerja sama dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Bapermasper KB dan KP Kota Salatiga.

“Juga dengan Pusat Studi Gender UKSW, ASWGI Provinsi Jawa Tengah, dan LSM Parahita Foundation. Adapun program ini, kami juga beri nama Pitutur Srikandi. Yang bermakna perempuan berinisiatif, saling membagi pengetahuan, dan bekerja sama dengan kaum pria dalam usaha merealisasikan program tersebut,” kata Arianti.

Jika dijabarkan lagi, lanjutnya, kerja sama itu dalam membangun kapasitas untuk aktif berpartisipasi dalam program prioritas utama Three Ends menuju keluarga produktif, tanpa kekerasan, dan terus berkelanjutan. Three Ends itu sendiri bermakna akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain itu juga akhiri perdagangan manusia, serta kesenjangan ekonomi.

“Hal terpenting dan utama adalah adanya perubahan cara berpikir dari masyarakat tentang perlakuan terhadap perempuan dan anak. Kumpulrejo dipilih sebagai pilot project pun dikarenakan kelurahan tersebut masyarakatnya sangat menjunjung tinggi tata krama serta jauh dari kekerasan. Program hasil dari beberapa elemen ini pun akan terus berkelanjutan ke depannya,” jelas Ketua Unit Pusat Penelitian dan Studi Gender UKSW tersebut. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved