Liputan Khusus

Pidana Mati untuk Teroris pun Tidak Menciutkan Nyali Mereka, Lalu Apa Solusinya?

Pidana Mati untuk Teroris pun Tidak Menciutkan Nyali Mereka, Lalu Apa Solusinya? Menurut Ali Masyhar Mursyid begini...

Editor: iswidodo
tribunjateng/dok
Tim Puslabfor Polri bersama Tim Densus 88 Antiteror melakukan olah TKP rumah kontrakan terduga teroris di Bintara, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (11/12/2016). 

News Alaysis oleh Ali Masyhar Mursyid, Ketua Pusat Studi Antiradikalisme dan Terorisme Unnes

TRIBUNJATENG.COM - Aksi terorisme merupakan tindak pidana khusus yang dilakukan dengan motif dan tujuan khusus. Untuk menanggulanginya tidak cukup dengan menangkap atau memidanakan yang bersangkutan. Bahkan hukuman mati sekalipun tidak bisa memberangus atau membuat mereka jera.

Berbeda dengan tindak pindana biasa. Sebut saja perampokan yang motifnya dapat dipastikan adalah ekonomi. Sehingga ketika barang incaran sudah berhasil diambil maka misi selasai. Tapi kalau terorisme berbeda, tindakan mengebom seperti yang saat ini terjadi itu bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya tujuan antara. Sedangkan maksud akhirnya adalah motif politik.

Tindak pidana terorisme penuh dengan motif politik. Lewat aksi teror, ada pesan yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat bahwa "gerakan saya masih ada, kalian semua harus mengikuti dan apabila khilafah islamiah tidak ditegakkan maka akan terus ada aksi-aksi teror atau pengeboman".

Terkait dengan itu, maka hukuman yang dijatuhkan tidak lagi mempan meski pidana mati sekalipun. Itu tidak kemudian serta merta menciutkan nyali mereka untuk berhenti melakukan aksi teror.

Berdasarkan hasil analisa, prosentase pengaruh pidana mati bagi teroris hanya 5 persen sampai 25 persen untuk menjadikan mereka jera. Hal itu karena untuk melakukan terorisme niat atau motif sudah digembleng atau dibentuk sejak awal.

Sehingga ketika hukuman pidana itu diterapkan kepada bersangkutan maka tidak membuat jera. Justru bisa jadi ketika dimasukan ke dalam penjara mereka mejadi virus atau agen untuk menggaet teroris baru.

Apalagi di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) bisa jadi mereka bertemu dengan orang-orang putus harapan hidup yang notabene sangat mudah untuk direkrut. Lalu selanjutnya, setelah keluar dari penjara malah justru bergabung dengan kelompok teroris.

News Alaysis oleh Ali Masyhar Mursyid
News Alaysis oleh Ali Masyhar Mursyid, Ketua Pusat Studi Antiradikalisme dan Terorisme Unnes

Lalu kira-kira apa yang mesti dilakukan agar deradikalisasi ini bisa berjalan sukses? Ada dua sarana, yang pertama adalah sarana hukum pidana. Caranya seperti yang sekarang ini dilakukan, yaitu pemberian hukuman, seperti dimasukkan penjara atau tembak mati.

Tapi tidak cukup di situ, ketika narapidana kasus terorisme dimasukkan lapas, sebaiknya harus ada semacam pemisahan ruang. Sebab apabila dijadikan satu dengan terpidana lainnya maka dikhawatirkan bisa menularkan atau merekrut anggota baru.

Kalau perlu ada lapas khusus yang satu sel diisi satu napi terorisme. Karena apabila digabung bersama napi teroris lainnya justru berbahaya karena mereka bisa saja melakukan konsolidasi di dalam penjara.

Sistem pengawasan di lapas juga tidak hanya sekadar "sing penting jogo". Sementara aktifitas di dalam tidak pernah diperhatikan.

Penggerebekan
Anggota Densus 88 sedang mendekati sebuah rumah yang dihuni terduga teroris di Setu, Tangerang Selatan, Rabu (21/12/2016).

Sarana kedua adalah nonhukum pidana. Ini yang belum difungsikan. Padahal manfaatnya penting untuk mensukseskan program deradikalisasi. Caranya tidak hanya cukup dengan pemberian caramah guna pembersihan atau pencucian otak saja, namun harus dibarengi sarana lain yang lebih humanis seperti mencukupi kebutuhan ekonomi dengan memberikan pekerjaan yang layak. Selain itu memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan, yang selama ini menjadi masalah mereka.

Karena dimungkinkan, orang itu bergabung menjadi anggota teroris karena awal mulanya terhimpit suatu masalah contohnya saja masalah ekonomi. Sehingga kalau sebatas diberikan wejangan maka tidak akan berpengaruh banyak. Sebab itu kaitannya masalah perut atau rasa ketidakadilan maupun kejengkelan di dalam diri.

Pendampingan yang sifatnya lebih humanis ini ujung-ujungnya membuat mereka menjadi sadar bahwa negara sudah "ngopeni" dirinya. Masak kalau sudah baik seperti ini ia tega mencederai orang lain dan melawan negara.

Diketahui bersama, aksi terorisme selalu bermetamorfosis atau berkembang. Mereka juga beradaptasi dalam menjalankan aksinya. Sehingga bentuk atau cara-cara teror akan terus muncul. Seperti yang baru-baru ini adalah menjadikan wanita sebagai calon pengantin bom bunuh diri. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved