Breaking News:

Ngopi Pagi

Stop Star Wars di Media Sosial

Usaha kaum pemberontak mengalahkan tirani di Galatic memicu perang sengit di jagad galaksi.

Penulis: rika irawati
Editor: iswidodo
BBC
Memasuki tahun baru, sudah sepatutnya kita memasukkan catatan lebih bijak bermedia sosial sebagai bagian dari resolusi menjadi lebih baik. 

TRIBUNJATENG.COM - Usaha kaum pemberontak mengalahkan tirani di Galatic memicu perang sengit di jagad galaksi. Perubahan sistem pemerintahan yang awalnya berbentuk republik ke kekaisaran mutlak di bawah kekuasaan Sith menjadi pemicu. Galatic yang awalnya memiliki senat beranggotakan wakil dari planet-planet anggota Galatic tak lagi bisa berdemokrasi. Semua tunduk di bawah komando Sith.

Kisah film fiksi ilmiah Star Wars itu menarik sejak diluncurkan pertama pada 1977. Meski, sebenarnya, film perdana berjudul A New Hope tersebut merupakan episode keempat dari tujuh yang telah diproduksi. Episode pertama, The Phantom Menace, baru tayang di bioskop pada 1999.

Film yang mengangkat tema kebajikan dan kejahatan itu begitu hidup kala karakter Anakin Skywalker bermetafora menjadi Darth Vader. Anakin yang diramalkan sebagai The Choosen One atau Yang Terpilih untuk menyeimbangkan dan mengakhiri perang bintang, malah berbalik menjadi jahat.

Saat pertama ditemukan Master Qui-Gon Jinn, Force di diri Anakin dirasakan begitu kuat. Qui-Gon Jinn merupakan anggota Jeddi, kelompok yang menggunakan Force di diri mereka untuk kebajikan dan menjaga perdamaian di galaksi.

Di bawah bimbingan Master Obi-Wan Kenobi, Anakin dididik menjadi Jeddi tangguh dan berbakat. Namun, lantaran tak memiliki keteguhan hati, Anakin mudah dipengaruhi Darth Sidious yang menggunakan Force untuk kejahatan (Sith). Anakin terbujuk dan berbalik menjadi jahat kala Sith mengiming-imingi kekuatan tak terbatas yang dapat mencegah kematian merenggut wanita yang dicintai Anakin, Padme Amidala.

Perang di galaksi antah berantah tersebut seolah tak akan pernah berakhir, bahkan di episode terakhirnya. Itu pula yang kita rasakan saat menjelajah dan menjadi warga media sosial. Perang pendapat, ujaran kebencian dan pembelaan, seolah tak pernah ada habisnya. Akhirnya, media sosial menjadi ajang tempur layaknya Star Wars.

Banyak kejadian, yang mayoritas berakhir di ranah hukum, dipicu lantaran aktivitas di dunia maya. Sebut saja, kasus Florence, mahasiswi S2 UGM yang menghina warga Yogyakarta di media sosial Path, pada 2014. Yang terbaru, saling lapor ke pihak berwajib dan masih berlangsung di persidangan, buntut dari unggahan video Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dinilai menghina agama dan memicu demonstrasi besar.

Pada 2017, media sosial diprediksi menjadi wadah ampuh menyebarkan informasi. Dewan pers menyebut, ada lebih dari 43.400 media, termasuk media online yang eksis. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 234 yang terdaftar di Dewan Pers. Tak heran, banyak informasi yang seolah-olah laporan layaknya karya jurnalistik namun bukan produk jurnalistik. Ini pula yang sering kali menimbulkan berita-berita hoax.

Memasuki tahun baru, sudah sepatutnya kita memasukkan catatan lebih bijak bermedia sosial sebagai bagian dari resolusi menjadi lebih baik. May the Force be with you! (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved