Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Destinasi Jateng

Ribuan Buku Terpajang di Dijkstra Cafe, Kota Lama. Baca Buku Apa Saja Ada, Sambil Ngemil

Di antara banyaknya gedung-gedung bernuansa klasik di Kota Lama, kafe yang satu ini memang terhitung baru

Tayang:
Editor: muslimah
Tribun Jateng/maulana ramadhan
Dijkstra Cafe 

TRIBUNJATENG.COM - Di antara banyaknya gedung-gedung bernuansa klasik di Kota Lama, kafe yang satu ini memang terhitung baru.

Dijkstra cafe adalah satu dari sekian banyak kafe yang menggunakan bangunan klasik sebagai hunian. Meski bukan yang pertama, kafe ini tetap mempunyai ciri khas tersendiri.

Menurut Marketing Promosi dan Pengembangan Dijkstra, Dovy Permana, dahulu bangunan ini merupakan rumah milik seorang Romo asal Belanda John Dijkstra. Terdiri dari dua lantai, Dijkstra Cafe menghuni lantai dua dari bangunan bergaya klasik tersebut.

“Nama Dijkstra diambil dari John Dijkstra. Yang kita tempati sebagai Dijkstra Café itu dulu merupakan ruangan perpustakaan. Jadinya sesuai dengan konsep kita yakni library café,” ujar Dovy.

Memang yang menjadi pembeda antara Dijkstra Cafe dengan kafe-kafe lain di kompleks kota lama adalah konsep library cafe atau kafe yang menyatu dengan perpustakaan.

Dijkstra Cafe yang berada di bawah pengelolaan LPUBTN (Lembaga Pendampingan Usaha Buruh Tani dan Nelayan), memang berusaha memadukan unsur bisnis dan sosial. Salah satunya adalah konsep kafe perpustakaan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak muda.

Beberapa Koleksi Buku di Dijkstra Cafe
Beberapa Koleksi Buku di Dijkstra Cafe

“Kalau dipersentasikan mungkin 80 persen sosial dan 20 persen bisnis. Karena kita juga banyak bekerja sama komunitas, pegiat-pegiat sosial atau sponsor lain,” tambah Dovy.

Selain buku, Djikstra juga dikonsepkan sebagai sebuah art gallery. Tidak hanya dipenuhi oleh beragam jenis buku, di dinding-dinding kafe juga dihiasi oleh lukisan-lukisan kulit kayu yang merupakan karya seni terkenal dari Sentani, Papua.

Tidak hanya buku, produk kerajinan tangan lainnya juga mudah ditemui disini. Dovy mengungkapkan, hingga saat ini buku-buku yang tersusun di rak mencapai 200an. Jumlah itu belum ditambah dengan koleksi pribadi dari John Dijkstra yang mencapai 5.000an.  

“Untuk buku koleksi John Dijkstra masih kita sortir karena jumlahnya yang banyak sekali. Selain itu juga karena merupakan buku-buku tua jadi harus hati-hati memilihnya,” jelas Dovy.

Tidak hanya menikmati nuansa klasik kota lama, disini pengunjung juga bisa menambah ilmu lewat buku-buku yang tersedia. Buku-buku jenis apapun bebas dibaca disini.

o
Omelet mie dan pisang keju, salah satu menu di Dijkstra Cafe

Tak lengkap rasanya jika membaca tanpa ada sajian yang menemani. Hidangan-hidangan yang tersedia di kafe ini merupakan menu-menu ringan seperti omelet mie, tahu ting-ting keju, pisang caramel coklat dan lainnya.

Bagi para komunitas yang ingin menghelat acara, Dijkstra Café juga menyediakan tempat untuk penyelanggaran acara baik itu pelatihan atau gathering. Diungkapkan Dovy, tempatnya memang terbuka untuk komunitas-komunitas apapun di Semarang.

Dijkstra Café yang berlokasi di Jalan Taman Srigunting No.10 Kota Lama, Semarang ini buka mulai pukul 11.00 sampai 23.00. (Maulana Ramadhan/magang tribunjateng)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved