Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Heboh Berselfie Ria Hanya dengan Rp 10 Ribu di Taman Bunga Krisan (1)

Tren taman krisan belakangan sedang melanda di kawasan wisata pegunungan di Jawa Tengah, antara lain di Batang, Salatiga, dan terbaru

TRIBUNJATENG/DENI SETIAWAN
Wisata Kampung Krisan Gemah Ripah yang terletak di Dusun Clapar Desa Duren Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Tren taman krisan belakangan sedang melanda di kawasan wisata pegunungan di Jawa Tengah, antara lain di Batang, Salatiga, dan terbaru Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Di Kabupaten Semarang setidaknya ada tiga desa yang memiliki lokasi wisata bernama Kampung Krisan. Salah satu desa tersebut adalah Dusun Clapar, Desa Duren, Kecamatan Bandungan yang menjadi Kampung Krisan sejak bulan Agustus 2016 lalu lewat inisiatif sekelompok pemuda yang mendirikan Kampung Krisan Clapar (KKC).

Memiliki warna indah yang beragam, tidak sulit bagi kita untuk jatuh cinta kepada bunga yang memiliki nama latin chrysanthemum ini. Meski sudah memiliki nama dalam Bahasa Indonesia, seruni, bunga yang hanya tumbuh di kawasan sejuk ini lebih akrab di telinga generasi muda dengan sebutan bunga krisan.

Di kawasan Bandungan kita bisa menikmati hamparan bunga krisan ditanam rapi berdasarkan warna bunganya. Di setiap petak, terdapat puluhan gubuk yang disebut green house, tempat pengelola membiakkan tanaman krisan sesuai dengan usia tanaman.

Pengelola KKC memang menanam krisan secara berkala. Sebab, dengan sistem ini, KKC bisa terus buka sepanjang tahun lantaran tanaman krisan hanya mampu dua kali berbunga. "Untuk wisata memang kami mengikuti perkembangan bunganya. Seperti saat ini, green house yang tanamannya sudah harus dipanen terpaksa kami buka karena green house lain belum siap. Jika sudah berbunga dua kali, tanaman kami ganti dengan bibit baru," kata seorang pengelola, Bayu Santoso (19).

Melihat-lihat bunga beraneka warna sungguh menenteramkan hati. Udara sekitar yang sejuk ditambah pemandangan indah kawasan Bandungan membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Para muda-mudi juga dibebaskan untuk berselfie ria atau mengabadikan diri di antara rerimbunan bunga krisan.

Pengunjung bisa masuk ke lokasi wisata yang buka setiap hari ini, dengan tiket seharga Rp 10 ribu. Tidak hanya itu, bagi pengunjung yang tergoda untuk memetik bunga, dengan menebus harga bunga sebesar Rp 2.500 per tangkai.

Untuk mencapai Desa Clapar, pengunjung dari arah Semarang cukup menempuh perjalanan satu jam. Lokasinya yang berada 1 kilometer sebelum Pasar Bandungan, bisa ditemui dengan bantuan papan penunjuk di tepi jalur utama Semarang-Bandungan.

Bayu mengungkapkan, pengunjung sejauh ini berasal dari daerah seperti Semarang dan wilayah Jawa Tengah pada umumnya. Bayu juga mengatakan, beberapa waktu lalu, mahasiswa asing asal Thailand dan India juga sempat berkunjung ke KKC. Mereka mengaku terpesona dengan keindahan taman bunga di sana. "Mereka berkuliah di Unnes. Secara umum, sambutan masyarakat positif sebab di sini memang masih jarang ada wisata taman bunga," sambungnya.

Ketua Kampung Krisan Clapar (KKC), Asrofi, mengatakan mulanya ia dan kalangan pemuda setempat berniat mengembangkan potensi tanah lokal yang subur. Lokasinya yang berdekatan dengan kawasan wisata Umbul Sidomukti juga menjadi alasan mengapa Clapar diberdayakan. Niat tersebut disambut baik oleh petani setempat hingga kemudian disepakatilah membuka lokasi wisata taman bunga.

Tanah seluas 10 hektare yang telah disiapkan kemudian diolah agar semakin subur. Sementara sumber daya manusianya digembleng melalui pelatihan di Bandung. Di Kota Priangan, dua orang petani mengikuti pelatihan budidaya krisan selama sebulan.

Di KKC hanya terdapat beberapa warna krisan, seperti merah fuschia, ungu, kuning, hijau dan beberapa kombinasi warna. Sementara menurut Asrofi, sebenarnya terdapat lebih dari 60 jenis warna bunga seruni. Menurutnya, beberapa tanaman dengan warna bunga tertentu memang tidak cocok dengan kontur tanah dan cuaca di kawasan Bandungan, sehingga sulit berbunga. "Jika pembiakan lancar dan situasi mendukung, tanaman krisan bisa dipanen pada usia 100 hari. Kami juga menjual bibit krisan. Per pohon kami jual Rp 150 sampai Rp 200, sementara di pot besar berisi 15 pohon, kami jual dengan harga Rp 7.500," kata Asrofi. (ponco wiyono/deni setiawan)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved