Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Icip icip Kuliner

Tempati Replika Gedung Bersejarah, MGM Cafe Persilakan Pengunjung Nikmati Kesan Kuno

Setiap sore, lantunan musik akan dimainkan bagi pengunjung yang ingin bernostalgia. Kafe ini juga memiliki agenda line dance

Editor: muslimah
Tribun Jateng/Shela Kusumaningtyas
MGM Cafe tonjolkan kesan sejarah lewat bangunan yang ditempati. Desain kafe ini masih mempertahankan keaslian bangunan lama seperti penggunaan kaca patri dan langit-langit kayu. 

TRIBUNJATENG.COM - Apabila Anda tengah berkeliling di Kota Lama, jangan hanya berpusat di sekitar Gereja Blenduk dan Taman Srigunting. Cobalah melipir ke Jalan Cenderawasih. Di sana terdapat kafe yang menyuguhkan konsep unik bagi para pengunjung.

MGM Cafe yang dibuka sejak satu setengah tahun lalu ini menempati Gedung Komedi Stadshouwburg yang diresmikan pada 29 Agustus 1956 oleh Soeharto. Kala itu Soeharto menjabat sebagai Panglima Teretorium IV Diponegoro.

Dikatakan pengelola kafe ini, Alexandra Tri Tantya, pembukaan kafe ini tak lepas dari peran sang ayah, Tan Linggo Sapto yang merupakan penggiat Kota Lama Semarang.

mgm
Meja bar di kafe ini berbentuk seperti perahu. Ini tidak lepas dari pengaruh letak gedung ini yang tak jauh dari pelabuhan.

Sang ayah menginginkan memori masa kecil tentang Kota Lama kembali. Dikatakan Alexandra, menurut sang ayah dulu Kota Lama tidak dipenuhi sampah dan coret-coretan sembarangan. Kondisi Kota Lama tidak seseram sebelum dihidupkan lagi.

“Pengen mengubah sekitar sini biar orang enggak takut lewat. Kota Lama tidak hanya terpaku di Gereja Blenduk saja. Di sini gedungnya bagus bersejarah. Meski secara peluang bisnis belum baik. Saya sendiri masih sepi, ibaratnya jadi pioneer di sini,” papar perempuan berambut panjang ini.

Koleksi barang antik dan kuno kepunyaan Tan Linggo Sapto turut dipamerkan di bagian depan panggung kafe ini. Kafe ini sebenarnya merupakan replika dari gedung sebelah yang kondisinya hampir roboh dan dipenuhi semak belukar. Atap kafe ini berbentuk menyerupai perahu terbalik.

Menurut Alexa, lengkungan atap tersebut akan memantulkan suara yang bagus untuk permainan musik.

Kaca patri bergambar putri dongeng ikut menyita perhatian mata. Ada pula kaca mozaik warna-warni yang menggambarkan sosok Matahari.

Matahari merupakan nama samaran yang dipakai seorang perempuan yang berperan sebagai agen ganda, mata-mata. Perempuan yang bertindak sebagai spionase ini adalah Margaretha Geertruida  'Grietje' Zelle.

“Konon Margaretha ini pernah menari di sini. Nama kafe ini juga diambil dari nama dia,” imbuh Alexa.

Setiap sore, lantunan musik akan dimainkan bagi pengunjung yang ingin bernostalgia. Kafe ini juga memiliki agenda line dance yang bisa diikuti para pengunjung. Line dance dilakukan di tengah kafe ini yang lapang.

Di pojok kafe juga terdapat meja bar yang didesain menyerupai kapal. Bagi pengunjung yang hanya ingin mengabadikan keunikan bangunan kafe yang di atap luarnya bertengger semut raksasa, tinggal membayar sepuluh ribu rupiah.

mgm
Menu yang bisa dipesan di kafe ini merupakan percampuran antara citarasa lokal dan internasional. Kuliner Semarang tak ketinggalan ikut dimasukkan ke dalam daftar.

Menu yang ditawarkan kafe ini di antaranya bandeng serani, steak tempe, steak sosis, pisang plenet, dan aneka milkshake. Perpaduan menu tradisional, nusantara, serta internasional tersaji di kafe ini dengan rentang harga mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu.

Tak ada salahnya menjajal mengorek sejarah dari gedung yang disebut sebagai Marabunta, Gedung Multiguna sembari menyantap hidangan yang bisa dipesan di kafe ini. (Shela Kusumaningtyas/magang tribunjateng)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved