Tribun Campus
Educa Studio Salatiga Hasilkan 280 Game Edukasi, 5 Juta Orang Unduh Mari Belajar Mengaji
Andi adalah pendiri Educa Studio. Sebuah studio yang sejak 2012 konsen dalam pengembangan game-game edukasi bagi anak untuk aplikasi Android
Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM -- Berbekal ilmu semasa berkuliah di Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Andi Taru Nugroho Nur Wismono (30) kini dikenal luas di dunia game tanah air maupun mancanegara.
Andi adalah pendiri Educa Studio. Sebuah studio yang sejak 2012 konsen dalam pengembangan game-game edukasi bagi anak untuk aplikasi Android. Dari semula hanya dikerjakan Andi dan istrinya, Iedha Ida, kini Educa Studio berkembang dan telah mempekerjakan sekitar 13 orang.
Untuk memperoleh game produksi Educa Studio tidak dipungut biaya alias gratis. Pelanggan bisa mengunduh di Google Play Store, lalu ketik Educa Studio, dan pilih game sesuai keinginan. Ada ratusan game yang bisa dimainkan oleh anak-anak mulai usia 2 tahun hingga 12 tahun.
Ada dua kategori game Educa Studio yakni kategori usia 2-6 tahun dan 7-12 tahun. “Total selama lima tahun terakhir ini, kami sudah menghasilkan 280 game edukasi dan sudah diunduh sekitar 25 juta user,” kata Andi, Rabu (11/1).
Ada bermacam-macam jenis game mulai edukasi interaktif Mari Belajar (Marbel) Series, Cerita Anak Interaktif (Riri), hingga Kisah Teladan Nabi (Kabi). “Paling laris dan cikal bakal semangat kami adalah Marbel Mengaji,” ungkap Andi. Marbel Mengaji dirilis akhir 2012 silam dan sudah diunduh 5 juta user hingga awal 2017 ini.
Andi dan kawan-kawan terus mengembangkan berbagai game edukasi interaktif untuk mengimbangi membanjirnya produk-produk game luar negeri. Timnya pun fokus mengembangkan game edukasi dan tidak mementingkan bisnis terlebih dahulu.
Di rumah sekaligus ruang produksi di Jalan Gilingrejo Nomor 10 Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Andi dkk mulai bekerja pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Tahapan yang selalu dilalui sebelum merilis game adalah riset kebutuhan.
“Setelah itu kami bersama-sama tentukan tema dan desain. Setelah itu diserahkan ke bagian art dua dimensi atau tiga dimensi, diberi musik, narasi, lanjut ke penggabungan di bagian development agar menjadi game utuh,” jelasnya.
Sebelum rilis resmi, game diujicoba oleh guru dan siswa di sekolah tertentu. Setelah dirasa cocok baru dimasukkan ke Google Play Store.
“Satu game paling cepat butuh waktu sekitar tiga bulan. Kami berharap produk-produk game ini bisa bermanfaat. Anak-anak sebenarnya sedang belajar meskipun di sisi lain yang dirasakan mereka adalah bermain. Kami juga sudah bikin lagu anak-anak. Sudah ada empat album. Satu album berisi delapan lagu,” ucapnya.
Programmer Educa Studio, Galih Aulia (30) menambahkan game-game yang dihasilkan selalu diperbarui sesuai kebutuhan anak-anak. "Harapan kami, ke depan akan tumbuh para gamer muda dan lokal yang bisa memajukan dunia digital di negeri sendiri. Jangan sampai dikuasai oleh gamer dari luar negeri," terang Galih.
Teguh Prabowo (28), programmer Educa Studio lainnya menyampaikan tidak mudah untuk memproduksi game bernilai edukasi. Tekad agar tidak digilas produsen game luar negeri membuat mereka terus maju.
"Game yang kami hasilkan memang fokus untuk anak-anak Indonesia. Sehingga bahasa hingga karakternya pun Indonesia banget. Prinsip, konten lokal atau kelokalan akan terus dijaga di sini," tegasnya.(deni setiawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/uksw_20160721_151924.jpg)