Breaking News:

Jelajah Museum dan Sejarah

Dari Baju Karung Goni hingga Kursi Roda, Saksi Perlawanan Tanpa Henti Rakyat Indonesia

Di Museum Mandala Bhakti Semarang, sejumlah koleksinya menjadi saksi betapa kejamnya penjajahan dan gigihnya perlawanan

Tribun Jateng/maulana ramadhan
Dari kiri ke kanan: pakaian karung goni, seragam PETA, seragam Heiho 

TRIBUNJATENG.COM - Perjuangan yang dilalui oleh rakyat dan tentara Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan amatlah susah. Mereka mengorbankan jiwa dan raga, bahkan tak sedikit yang meregang nyawa di medan perang.

Di Museum Mandala Bhakti Semarang, sejumlah koleksinya menjadi saksi betapa kejamnya penjajahan dan gigihnya perlawanan.

Museum Perjuangan Mandala Bhakti
Museum Perjuangan Mandala Bhakti

Mulai dari pakaian hingga alat bantu yang digunakan para veteran paska perang.

Salah satu ruangan di lantai satu Gedung Museum Mandala Bhakti dinamai Ruang Seragam Angkatan Darat atau Gamad.

Di ruang gamad ini terdapat seragam atau pakaian yang digunakan para pejuang mulai dari sebelum terbentuknya tentara nasional sampai dengan seragam tentara yang digunakan saat ini.

Koleksi seragam dipamerkan dengan menggunaan manekin yang tersimpan rapi dalam jejeran almari.

Setiap seragam memiliki keterangannya masing-masing. Terdapat seragam yang digunakan masa prakemerdekaan seperti seragam tentara PETA yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), seragam Heiho (pasukan bentukan Jepang yang direkrut dari penduduk Indonesia), masa awal kemerdekaan  seperti seragam BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang merupakan awal dari terbentuknya TNI, seragam TKR (Tentara Keamanan Rakyat) adalah perkembangan terbentuknya TNI dan seragam TNI saat ini.

Disamping itu, ada pula seragam yang digunakan para penjajah, seperti seragam tentara Jepang dan seragam tentara Ghurka.

Tentara ghurka adalah tentara bayaran dari orang-orang India untuk membantu pasukan Belanda dalam upayanya menjajah kembali Indonesia.

Di antara semuanya ada satu yang menarik perhatian, yakni pakaian karung goni yang diletakkan di deretan paling pojok almari.

Dari kiri ke kanan: pakaian karung goni, seragam PETA, seragam Heiho
Dari kiri ke kanan: pakaian karung goni, seragam PETA, seragam Heiho

Menurut Gandung Raharjo, pemandu wisata di Museum Mandala Bhakti, pakaian ini merupakan bukti kekejaman penjajahan masa jepang.

“Akibat penjajahan tentara Jepang, bahan makanan, obat-obatan, pakaian dimusnahkan oleh tentara jepang. Sehingga saat itu banyak rakyat Indonesia yang hidup sengsara dengan menggunakan karung goni sebagai pakaian,” ujar Gandung.

Untuk menjaga keaslianya agar tidak mengalami kerusakan, dilakukan metode fumigasi atau pengasapan terhadap koleksi-koleksi museum terutama untuk yang rentan seperti kain dan buku. Fumigasi dilakukan di ruang laboratorium yang juga dimiliki oleh Museum Mandala Bhakti.

Kursi Roda di Ruang cacat veteran
Kursi Roda di Ruang cacat veteran

Selain seragam, salah satu ruangan di Museum memamerkan alat bantu kesehatan yang digunakan para veteran paska perang. Dinamakan ruang cacat veteran. Ruangan ini berisi alat-alat kesehatan seperti kursi roda, kruk sampai dengan kaki palsu. Atas prakarsa Ibu Tien Soeharto, alat-alat kesehatan ini dikumpulkan di museum.

“Jadi alat-alat disini ini, menjadi bukti bahwa tidak hanya harta benda yang dikorbankan oleh pejuang tetapi juga anggota tubuh dalam upaya merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia,” jelas Gandung. (Maulana Ramadhan/magang tribunjateng)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved