OPINI

Lupakah Kita Tentang Indonesia?

Lupakah Kita Tentang Indonesia? Opini ditulis oleh Mangihot Tua, Mahasiswa S2 Ilmu Hukum Kenegaraan Undip Semarang

Lupakah Kita Tentang Indonesia?
tribunjateng/cetak
Lupakah Kita Tentang Indonesia. Opini ditulis oleh Mangihot Tua, Mahasiswa S2 Ilmu Hukum Kenegaraan Undip Semarang 

Opini ditulis oleh Mangihot Tua, Mahasiswa S2 Ilmu Hukum Kenegaraan Undip Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Indonesia adalah negara yang sangat besar, mulai dari jumlah penduduk, luas wilayah, sumber daya alam hingga seni budaya dan adat istiadatnya. Indonesia adalah Negara Agraris, Negara Maritim, Negara yang Jumlah penduduknya merupakan yang keempat terbesar di dunia, setelah China, India, dan Amerika.

Indonesia adalah Nusantara negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau. Indonesia adalah negara yang strategis karena Indonesia sebuah negara yang terletak di antara 2 samudera (Pasifik dan Hindia) dan 2 benua (Asia dan Australia). Dalam pelajaran Hukum dan Kewarganegaraan Indonesia disebut Negara hukum, Negara yang menjunjung tinggi demokrasi.

Sebagai warga yang lahir di Indonesia, dengan pendidikan yang saya peroleh sejak umur 5 tahun di Indonesia, maka izinkan saya menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang terbentuk dari bersatunya keragaman dan perbedaan. Itulah Indonesia. Inilah yang tidak boleh dilupakan oleh generasi ke generasi bangsa Indonesia.

Apa itu Indonesia? Keragaman dan perbedaan suku bangsa, ras, budaya, sosial dan agama dari masyarakatlah yang membentuk Negara Indonesia. Seandainya suku bangsa atau ras yang sejenis, mungkin kita akan menjadi seperti beberapa negara di Benua Afrika, atau mungkin beberapa negara di Benua Asia khususnya bagian Asia Timur.

Keragaman budaya yang ada dari Sabang sampai Merauke lah yang menyatukan kita untuk menjadi Indonesia seperti lagu O Mariam Tomong dari Sumatera Utara atau Tari Perang dari Papua, Lagu dan Tarian ini merupkan budaya yang dulu digunakan untuk membakar semangat menuju medan perang, saat ini dimaknai sebagai penghormatan kepada para pahlawan dan para leluhur yang sudah berjuang serta mempertahankan tanah air mereka.

Dilihat dari sosial masyarakatnya, maka dapat kita bagi menjadi 3 (tiga), yaitu: pertama, Ascribed Status. Adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya, Seperti keturunan raja, Pangeran Diponegoro, seperti R.A Kartini, Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi yang ikut melawan kolonialis secara langsung.

Kedua, Achieved Status, yaitu status sosial yang didapat seseorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Seperti misalnya Boedi Oetomo 1908 yang berjuang untuk melawan colonial dengan cara intelektual.

Ketiga, Assigned Status, status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya. seperti misalnya Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara

Ketiga status tersebut seakan-akan hilang yang ada adalah rasa memiliki persamaan untuk menentang kolonialis.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved