Focus

Buena Suerte, Milla!

Buena Suerte, Milla! Publik berharap, Milla betul-betul mampu menjalankan tugas sesuai ekspektasi demi kebangkitan sepak bola Indonesia.

Buena Suerte, Milla!
GOOGLE
Luis Milla 

TRIBUNJATENG.COM - Lagu kebangsaan Belanda, Het Wilhelmus, berkumandang di Velodrome Municipal, Reims, Prancis, 5 Juni 1938. Johannes Christoffel van Mastenbroek membawa Indonesia, yang kala itu masih berkostum oranye dan bernama Dutch East Indies, tampil di Piala Dunia 1938. Ia menjadi orang pertama yang menggiring Pasukan Merah Putih ke pentas sepak bola sejagat sekaligus menjadi tonggak awal langkah Indonesia di pentas dunia.

Mastenbroek boleh dibilang merupakan orang pertama yang memahami cikal bakal Tim Nasional (Timnas) Indonesia meski sebetulnya bukanlah pelatih skuat bentukan PSSI, melainkan NIVU atau Nederlandsche Indische Voetbal Unie milik Belanda. Namun, apapun statusnya, ia tetap saja mencatatkan nama Indonesia sebagai negara Asia pertama yang berlaga pada putaran final Piala Dunia dengan materi pemain asal suku Jawa, Maluku, Tionghoa, dan Indo-Belanda.

Waktu berlalu, tak hanya Mastenbroek, pelatih asing lain pun ikut menuai sukses bersama Timnas Garuda. Sebut saja Tony Pogacnik asal Yugoslavia. Ia menangani Indonesia selama enam tahun dan mampu membawa Andi Ramang dkk ke Olimpiade 1956. Tak cukup, Indonesia dibawanya pula merebut perunggu di Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang.

Setelah Pogacnik, ada Wiel Coerver asal Belanda yang berhasil mengantarkan Anjas Asmara Cs ke final Pra-Olimpiade 1976. Sebetulnya, selangkah lagi, Indonesia bisa lolos ke Olimpiade Montreal andai tendangan penalti Anjas mampu menjebol gawang Korea Utara di hadapan 120 ribu penonton yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Pogacnik dan Coerver dinilai banyak pihak sukses melatih Indonesia. Semua tak lepas dari otoritas penuh dan jangka waktu bekerja relatif lama yang mereka dapatkan. Mereka leluasa memantau, merekrut, serta menggembleng pemain. Program kepelatihan mereka benar-benar bisa diterapkan secara tuntas sehingga Timnas cukup matang berkiprah di berbagai pentas sepak bola kelas internasional.

Sedikit melihat ke belakang, sebenarnya pola tersebut tak jauh berbeda dengan kesempatan yang pernah diberikan oleh PSSI kepada Alfred Riedl saat menukangi Boaz Solossa dkk. Tapi, apa hasilnya? Sepakat atau tidak, suka tidak suka, pelatih asal Austria tersebut nyatanya hanya menghasilkan dua kali final Piala AFF bagi Indonesia.

Lantas, bagaimana dengan Luis Milla Aspas, si calon pelatih baru Timnas? Jika pasti ditunjuk oleh PSSI, ia pasti bakal menangani Indonesia mulai dari nol. Bahkan, kemungkinan besar, ia tak akan menggunakan komposisi pemain yang ditinggalkan oleh Riedl mengingat ada perbedaan pola kepelatihan serta filosofi permainan yang diusung.

Milla, dalam membangun skuat, cenderung mengedepankan pemain-pemain muda yang kuat secara fisik, mental, kemampuan, serta kerja sama. Tengok saja ketika ia sukses membawa Spanyol menjadi juara Piala Eropa U-21 pada 2011. Kejelian memaksimalkan pemain potensial serta ketepatan taktiknya berhasil mengantarkan skuat Negeri Matador tak terkalahkan selama berlaga di kejuaraan itu.

Tentu, apa keahlian yang dimiliki oleh Milla sangat dibutuhkan untuk membangun fondasi solid di Timnas Indonesia. Apalagi, sesuai keinginan PSSI, nantinya Milla juga berkuasa penuh atas keberadaan Timnas U-23. Ia akan berperan mutlak dalam proses pembentukan pemain sehingga program pembinaan bisa berjalan beriringan lewat satu payung filosofi.

Namun, dari sekian analisa positif terhadap rencana kedatangannya, ada satu hal krusial yang paling dikhawatirkan: jangan-jangan Milla belum tahu apa-apa tentang profil sepak bola kita? Periodenya selama di Tanah Air, sekali lagi bersyak wasangka, justru habis untuk mempelajari budaya sepak bola serta kepribadian, karakter, dan potensi pemain?

Wah, kalau praduga tersebut menjadi kenyataan, alih-alih disegani, Timnas Indonesia malah bisa semakin terpuruk di bawah kendali Milla. Semoga saja anggapan itu meleset. Publik berharap, Milla betul-betul mampu menjalankan tugas sesuai ekspektasi demi kebangkitan sepak bola Indonesia. Buena suerte (semoga berhasil, Red), Milla! (tribunjateng/cetak/sigit)

Penulis: sigit widya
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved