Breaking News:

Mayoritas Penjual Miras di Semarang Juga Jualan Nasi Untuk Tutupi Kedoknya

berhasil mengamankan barang bukti berupa 733,5 liter miras, di antaranya 15 jeriken ciu serta 189 botol air mineral berisi ciu dan gingseng.

Penulis: puthut dwi putranto
Editor: galih pujo asmoro
Tribun Jateng/Putut Dwi Putranto
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji menunjukkan ratusan liter miras di Mapolrestabes Semarang, Jumat (20/01/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Putut Dwi Putranto

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang meringkus sebanyak delapan penjual minuman keras (miras) di wilayah hukumnya, dalam razia penyakit masyarakat pada awal pekan ini.

Mereka menjual miras di warung remang-remang.

Dalam penyisiran selama beberapa hari ini, tim operasi pekat yang dipimpin Kasat Res Narkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidik Hanafi, berhasil mengamankan barang bukti berupa 733,5 liter miras, di antaranya 15 jeriken ciu serta 189 botol air mineral berisi ciu dan gingseng.

Ratusan liter miras itu disita dari penjual miras di sejumlah lokasi yang berbeda di wilayah Semarang.

Polisi juga turut menggelandang para penjual miras itu, yakni Sunarmi, Joko, Karsini, Andri, Jumain, Bekan, Jasman, dan Suratmi.

"Razia pekat ini digelar untuk memberantas peredaran miras di wilayah Semarang. Miras identik dengan kriminalitas dan juga menelan korban jiwa," kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, dalam gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Jumat (20/1/2017).

Menurut dia, para penjual miras itu mayoritas juga menjajakan nasi untuk menutupi kedoknya.

Dalam praktiknya, mereka pun menyasar semua kalangan masyarakat, termasuk para pelajar.

"Ciu dikemas dalam botol kemudian dijual. Para penjual miras ini kulakan ciu dari Bekonang, Solo. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kami kenai sanksi tipiring," jelas Abiyoso.

Seorang penjual miras di kawasan Polder Tawang, Sunarmi (55) mengaku telah berjualan miras jenis ciu sejak 2004.

Aksinya terhitung mulus dari endusan petugas lantaran ia juga menjajakan nasi rames.

"Ciu saya ambil dari Bekonang, Solo menggunakan travel. Sekali beli belasan jeriken untuk berbulan-bulan. Pembelinya ada kuli bangunan, tukang becak, dan juga pelajar. Ada yang saya oplos dan ada yang saya jual polosan, tergantung permintaan," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved