Breaking News:

FOCUS

Politik Ratapan

Di tengah kontroversi yang makin tajam mengenai kian maraknya sikap tidak toleran, entah sengaja atau tidak, tiba-tiba ada cuitan ...

Penulis: yusran pare | Editor: iswidodo
tribunjateng/cetak
YUSRAN PARE pemimpin redaksi Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM - Di tengah kontroversi yang makin tajam mengenai kian maraknya sikap tidak toleran, entah sengaja atau tidak, tiba-tiba tokoh yang pernah 10 tahun memimpin negeri ini “mencuit” di lini masa media sosial, mengadu kepada Gusti Allah mengenai kondisi yang menurut dia kian karut-marut. “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah, penyebar hoax berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat & yang lemah menang?” demikian cuitan itu.

Kontan saja ratapan di dinding twitter itu diserbu bermacam komentar. Sebagian besar di antaranya balik menyerang, menyindir, mengolok-olok, bahkan ada yang mencaci menyebutnya sebagai tak tahu diri.

Ada pula yang mengungkit lagi kasus-kasus di masa pemerintahan sang mantan, yang hingga kini tak jelas pertanggungjawabannya meski sudah menghabiskan dana milyaran rupiah. Mulai dari skandal Blue Energy “temuan” teknologi mengubah air jadi bahan bakar, hingga revolusi pertanian lewat proyek Super Toy, bibit unggul yang konon bisa melipatgandakan produksi padi, dan lain sebagainya.

Jagat digital di tanah air riuh rendah. Perhatian agak terpaling sedikit dari perlawanan terhadap sebaran kebencian dan pernyataan-pernyataan intoleran. Jeda sesaat ibarat kafilah yang rehat di sisi oase. Sangat boleh jadi, percakapan akan segera berganti ke topik lain, seperti biasa.

Demikianlah, kemajuan teknologi informatika yang membawa lompatan jauh –dan kepraktisan– dalam pola komunikasi di dunia maya, telah mengambil alih fungsi yang selama ini diemban ruang publik konvensional.

Perbincangan, diskusi atau sekadar bergosip, keintiman atau bahkan kemarahan, sebagian kini berpindah saluran ke alam maya. Wacana kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan politik, tak lagi hanya di gedung parlemen dan kampus, malainkan juga di dinding percakapan –yang kadang jadi dinding ratapan– ruang maya.

Internet telah jadi ruang yang betul-betul terbuka dan bebas — dimasuki atau ditinggalkan– siapa pun. Bebas bicara dan tidak bicara apa pun. Bebas digunakan –dan tidak digunakan– untuk keperluan apa pun, termasuk kepentingan politik.

Ibarat agora (pasar) dalam sistem demokrasi di Athena, internet tidak saja merupakan tempat berjualan, melainkan berfungsi pula sebagai wahana masyarakat untuk bertemu, berdebat, mencari, berbagi, membuat konsensus atau menemukan titik-titik lemah gagasan politik dengan cara memperdebatkannya.

Dalam wacana politik, kondisi itu memberikan optimisme bahwa peran besar teknologi ini merupakan alternatif kekuatan baru yang dapat menciptakan iklim demokrasi lebih baik. Jelas, ia pun merupakan saluran komunikasi yang potensial dalam menyalurkan berbagai opini dan gagasan politik yang seringkali tersumbat atau terkendala kesungkanan.

Banyak tokoh politik dan kepala daerah yang secara sadar memanfaatkan pasar digital ini untuk blusukan, menyerap aspirasi, menyapa, bahkan bercakap dengan masyarakat. Sebut saja Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, dan Hendar Prihadi Wali Kota Semarang.

Penyaluran informasi yang baik dan jernih adalah satu di antara syarat utama demokrasi yang sehat, karena informasi yang terang dan baik, pasti berasal dan dialirkan lewat kejernihan pikiran dan ketulusan hati. Tanpa itu semua, demokrasi hanya akan bermakna sebagai kebebasan mutlak yang mendorong anarkisme. Atau sekadar wahana untuk berkeluh kesah.

Dulu, Wakil Presiden Amerikan Serikat, meyakinkan warganya bahwa teknologi informatika membuat warga negara bisa terlibat langsung dalam berbagai keputusan politik. Lalu, Barack Obama membuktikan keampuhan internet dalam perjalanannya menuju Gedung Putih, demikian pula Donald Trump, meski dengan cara yang berbeda.

Makna yang bisa ditangkap adalah: pemanfaatan ruang maya publik untuk komunikasi politik seyogyanyalah disertai persyaratan, di antaranya membangun sikap matang dan budaya politik yang dewasa.

Komunikasi politik tidak dapat dipisahkan dari berbagai aspek budaya, sikap mental, etika, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Apa yang sedang terjadi pada pemanbaatan kecanggihan teknologi dalam politik di tanah air, adalah cermin. Baru sebatas itulah budaya dan sikap mental politik kita. (tribunjateng/yusran pare/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved