Opini

Antara Hukuman dan Disiplin Siswa

Antara Hukuman dan Disiplin Siswa. Opini ditulis Nur Rakhmat, Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang

Antara Hukuman dan Disiplin Siswa
tribunjateng/cetak
Opini ditulis oleh Nur Rakhmat, Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang. 

Opini ditulis oleh Nur Rakhmat, Guru SDN Kalibanteng Kidul 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -Beberapa waktu lalu dunia pedidikan digemparkan adanya kasus hukuman lari mengelilingi lapangan yang dilakukan oleh kepala sekolah salah satu sekolah di Jepara Jawa Tengah. Ironisnya, akibat ketegasan kepala sekolah tersebut, dampak yang ditimbulkannya berbuntut panjang.

Adanya siswa yang dilarikan ke rumah sakit sampai demo yang dilakukan sebagian siswa seolah memperkeruh suasana penegakan disiplin yang diberlakukan oleh kepala sekolah di sekolah tersebut.

Jika kita runtut kronologinya dari awal, hukuman tersebut diterapkan karena ada siswa yang terlambat sampai di sekolah saat mengikuti kegiatan kerja bakti. Dan sesuai aturan, jika ada siswa yang melanggar aturan idealnya sanksi adalah tindakan tepat untuk diberlakukan pada siswa tersebut. Namun sanksi yang bagaimana?

Memang sangat dilematis, di satu sisi kita ingin menerapkan kedisiplinan, namun di sisi lain terkadang sanksi atau hukuman yang diberlakukan bisa menimbulkan gejolak di masyarakat, bahkan hal tersebut bisa menjurus ke pelanggaran Hak Asasi manusia (HAM). Lalu bagaimana langkah kita agar penerapan disiplin pada siswa tidak menimbulkan dampak negatif dan gejala traumatik bagi siswa?

Sanksi yang Mendidik

Hukuman atau sanksi adalah hal yang sering kita jumpai saat ada pelanggar disiplin dalam bidang apapun. Hukuman berasal dari kata dasar hukum, yang terdapat dalam KBBI artinya adalah peraturan yang secara resmi mengikat dan dibuat oleh penguasa atau pemerintah. Jadi hemat penulis, hukuman adalah bentuk pemberian tindakan sebagai wujud kepatuhan terhadap hukum yang berlaku.

Sesuai konteks terjadinya hukuman kepada siswa di salah satu sekolah yang ada di Jepara tersebut, logikanya telah terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh siswa kepada sekolah. Dalam arti lebih luas, pelanggaran bisa berupa terlambat datang di sekolah tanpa alasan jelas, tidak mengerjakan PR, memakai atribut yang tidak lengkap, dan berbagai bentuk pelanggaran disiplin lainnya. Lalu bagaimana agar kejadian hukuman fisik yang menimpa siswa tidak terulang? Tentu kita sebagai guru harus menerapkan sanksi atau hukuman yang bersifat mendidik.

Namun, sebelum membahas apa wujud sanksi yang tepat, dalam Undang-Undang No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Maka dari itu, berdasar undang-undang tersebut jika kita hendak memberikan sanksi atau hukuman kepada siswa akibat mereka melakukan pelanggaran sanksi tersebut haruslah yang mendidik. Sanksi tersebut harus bisa menjadi proses pembelajaran bagi siswa tersebut dan sanksi tersebut harus mampu membentuk kepribadian serta karakter positif siswa.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved