Jelajah Museum dan Sejarah

Kelenteng See Hoo Kiong, Satu-Satunya Kelenteng di Semarang Yang Masih Pertahankan Bangunan Asli

Diantara banyaknya kelenteng di Pecinan, terdapat satu yang cukup unik yaitu Kelenteng See Hoo Kiong

Kelenteng See Hoo Kiong, Satu-Satunya Kelenteng di Semarang Yang Masih Pertahankan Bangunan Asli
Tribun Jateng/maulana ramadhan
Klenteng See Hoo Kiong yang masih mempertahankan bangunan aslinya 

TRIBUNJATENG.COM - Di Kawasan Pecinan, Semarang, banyak terdapat kelenteng yang berusia ratusan tahun. Salah satu yang menjadi ikon adalah Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok.

Bangunan bersejarah tersebut berdiri megah dengan dominasi warna merahnya.

Tidak hanya Kelenteng Tay Kak Sie, menyusuri gang-gang di kawasan pecinan banyak Kelenteng yang keberadaannya cukup tersembunyi. Kelenteng-kelenteng tersebut juga memiliki ceritanya sendiri.

Diantara banyaknya kelenteng di Pecinan, terdapat satu yang cukup unik yaitu Kelenteng See Hoo Kiong.

Tempat peribadatan ini berlokasi di Jalan Sebandaran I. Tidak jauh dari sana juga terdapat kelenteng besar lainnya yaitu Kelenteng Wie Hwie Kong.

Yang membuat Kelenteng See Hoo Kiong unik adalah warna dinding luarnya. Dari luar, kelenteng ini tidak didominasi oleh warna merah sebagaimana kelenteng pada umumnya.

Klenteng See Hoo Kiong yang masih mempertahankan bangunan aslinya
Kelenteng See Hoo Kiong yang masih mempertahankan bangunan aslinya

Temboknya masih terhias dengan warna yang sedikit kusam dan beberapa pilar dengan warna coklat kayu. Selain itu halaman depan yang dimiliki cukup luas untuk menampung beberapa kendaraan.

Menurut penuturan A Min, Pengawas Kelenteng See Hoo Kiong, Kelenteng ini belum pernah mengalami pemugaran sejak pertama kali didirikan.

Bagian dalam kelenteng See Hoo Kiong
Bagian dalam kelenteng See Hoo Kiong

“Klenteng ini memang belum pernah dipugar. Dari pengelolanya memang ingin mempertahankan keasliannya. Meskipun secara umur, kelenteng ini termasuk yang paling muda diantara kelenteng-kelenteng di Pecinan,” ujar pria yang akrab disapa Pak Min tersebut.

Kelenteng See Hoo Kiong sendiri didirikan pada tahun 1881. Relatif lebih muda dimana kebanyakan kelenteng di Pecinan dibangun pada tahun 1700an dan awal 1800an.

Salah satu altar berdoa di kelenteng
Salah satu altar berdoa di kelenteng

Selain keasliannya yang masih dipertahankan Kelenteng ini juga pernah diberi penghargaan dari Pemerintah Kota Semarang sebagai bangunan keagamaan terbaik pada Tahun 2005 yang lalu.

Sebagaimana kelenteng lain, di Kelenteng See Hoo Kiong juga masih banyak pengunjung yang melakukan peribadatan.

Di sini terdapat beberapa altar berdoa pada dewa. Diantaranya Dewa Jodoh, Dewa Kelahiran dan altar yang paling besar adalah Dewi Laut. Menurut A min, tuan rumah Kelenteng See Hoo Kiong adalah Dewi laut sehingga memiliki altar yang lebih besar. Total ada lima altar yang dipergunakan.

Altar utama Dewi laut di Kelenteng See Hoo Kiong
Altar utama Dewi laut di Kelenteng See Hoo Kiong

A min menuturkan tidak ada ritual khusus yang dilakukan disini. Pengunjung dipersilahkan untuk berdoa atau sekedar berfoto. Ia menambahkan, sebagaimana tradisi masih dilakukan semacam perayaan ulang tahun dewa di Kelenteng.

“Dulu pernah juga diarak sampai melepaskan perahu di Pantai Marina. Sebagai simbol memberi karena ini kan Dewi Laut,” tutup pria berusia 67 tahun tersebut. (Maulana Ramadhan/magang tribunjateng)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved