Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Kisah Pemain Klub Sepakbola Amatir Pun Rela Nyambi Jadi Petani

Subur, pengurus Persikama Kabupaten Magelang, mengungkapkan perjuangan klub agar bisa bertahan.

Tayang:
PENDIM 0716/DEMAK
Seorang petani memikul padi dalam kegiatan panen perdana di Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang, Demak, Selasa (24/1/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Klub-klub sepakbola amatir di Jawa Tengah pontang-panting menyiapkan dana untuk mengikuti kompetisi Liga 3 (dulu Liga Nusantara/Linus) pada April 2017 mendatang. Para pemain pun ada yang nyambi menjadi petani untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Subur, pengurus Persikama Kabupaten Magelang, mengungkapkan perjuangan klub agar bisa bertahan. Musim 2015 merupakan tahun sulit bagi klub dimana pada masa kebangkitannya itu, ketersediaan dana sangat terbatas. Sehingga manajemen Persikama kala itu harus tombok sekitar Rp 200 juta.

Beruntung, lanjut Subur, manajer klub yang juga anggota dewan di Kabupaten Magelang sangat gila bola dan loyal kepada tim sehingga menutup semua kekurangan dengan uang pribadi.

"Manajer sebelumnya memang sudah berjanji jika dirinya kelak berhasil menjadi anggota dewan maka akan memajukan Persikama," ujar Subur sebelum mengikuti sosialisasi Liga 3 di kantor PSSI Jateng, kompleks Stadion Citarum, Semarang, Sabtu (11/2).

Setelah pada musim 2016 lalu absen, Persikama Magelang pada tahun ini memutuskan untuk kembali mengikuti kompetisi Liga 3. Ia menjelaskan, tim yang bermarkas di Stadion Gemilang ini sempat absen bukan karena masalah dana, namun faktor pembekuan kegiatan PSSI oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). 

Persikama merupakan tim yang terlahir kembali pada 2015 setelah sebelumnya mati suri selama 15 tahun. Kini di bawah kepengurusan baru arahan Sumardiono selaku manajer ingin memajukan sepakbola di Kabupaten Magelang.

"Bahkan saya menyampaikan kepada PSSI Jateng bahwa Persikama siap menjadi tuan rumah pembukaan Liga 3," ujar Subur.

Selama mati suri, Subur mengungkapkan, tidak pernah sekalipun pihaknya mendapatkan teguran dari PSSI. Padahal dalam aturan, jika klub absen mengikuti kompetisi selama dua musim berturut-turut diberikan sanksi berupa pencoretan dari keanggotaan.

"Kami mendukung rencana PSSI yang akan mencoret tim yang tidak mengikuti kompetisi selama dua musim beruntun. Bagus juga karena ada konsistensi, tidak asal ada duit baru menyatakan ikut kompetisi," ujarnya.

Menurut Subur, animo masyarakat Kabupaten Magelang untuk mendukung Persikama terus meningkat. Jika sebelumnya banyak warga sekitar yang justru mendukung tim lain seperti PSIM Yogyakarta maupun PSS Sleman, kini setelah mempunyai klub sendiri mereka membela daerah tempat tinggalnya. 

Bahkan, lewat tiket yang dijual Rp 10 juta – Rp 20 ribu per lembar, pihaknya bisa mendapatkan pemasukaan dari laga kandang hingga Rp 80 juta.

Pada tahun ini pihaknya juga akan mendapatkan kucuran dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sekitar Rp 250 juta – Rp 300 juta setahun.

Sementara biaya rutin yang mesti dikeluarkan klub berkisar Rp 60 juta – Rp 70 juta per bulan. Sebelumnya, Persikama belum pernah mendapatkan suntikan dana dari APBD.

Hanya Dua Bulan 

Bagaimana masa depan pemain sepakbola klub amatir? Wantono (29), mantan pemain Persipur Purwodadi dan Persekaba Blora, langsung tertawa ketika membahas hal tersebut. "Kerja pemain sepakbola amatir itu paling dua bulan hingga tiga bulan saja, pas ada kompetisi," kata guru sebuah Madrasah Tsanawiyah di Blora itu.

Ia bercerita, pada waktu muda tergiur menjadi pemain sepakbola. Alasannya, ia tahu nilai kontrak pemain sepakbola profesional sangat besar hingga ratusan juta rupiah. Akhirnya, ia mencoba berkarier di sepakbola.

Pada 2010, ketika berusia 21 tahun, Wantono ikut seleksi di Persipur Purwodadi. Ia pun lolos dan mendapat gaji Rp 2,5 juta per bulan kala itu. Bagi pemain sepakbola amatir seperti dirinya, memilih klub amatir tidak boleh sembarangan. Gaji lumayan bisa didapat jika masuk tim yang punya target juara.

"Kalau tim punya target tinggi pasti dananya banyak dan pemain yang dibutuhkan juga banyak," katanya.

Setahun di Purwodadi, Wantono pulang ke kampung halamannya di Blora, bergabung Persekaba Blora. Sejak 2011 hingga 2014, ia menjadi pemain bergaji Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Mendapat gaji hanya tiga bulan selama kompetisi berlangsung menjadi hal biasa bagi pesepakbola amatir. Bahkan ada pemain di klub amatir yang mendapat upah ala tarkam.

"Bayarnya per pertandingan, kalau tidak main ya tidak bayaran. Kalau bisa tiga bulan bagus, lha kalau langsung kalah di pertandingan pertama?" ceritanya.

Selama menjadi pesepakbola amatir, ia juga menjadi guru sebuah Madrasah Tsanawiyah. Penghasilan utamanya justru dari guru. "Banyak pemain Persekaba yang punya profesi lain semisal buruh tani, pemilik toko olahraga dan guru seperti saya," ujarnya.

 Konflik antarpengurus PSSI pada medio 2014, membuatnya berpikir ulang berkarier di sepakbola sebagai pemain. Sejak 2013 hingga 2015 ia mengambil kursus wasit tingkat kabupaten. Lalu, sejak 2015, ia juga mengambil kursus kepelatihan. Saat ini, ia memilih menjadi sekretaris Persekaba Blora.

Lebih enak menjadi pemain atau pengurus klub? Wantono lagi-lagi tertawa. Menurutnya, sejak menjadi pengurus klub ia justru sering tombok. Terutama ketika mengadakan rapat. "Kalau jadi pemain enak, main terus dibayar. Kalau pengurus klub sepakbola kebanyakan tombok, dimanapun," ujarnya.

Ia berharap persepakbolaan Indonesia semakin baik dan bisa menjamin masa depan pemainnya. Sebab, olahraga sejuta umat tersebut dijadikan ladang nafkah ribuan orang mulai dari tingkat amatir hingga profesional.(tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved