Budayawan Ingin Kudus Menjadi Pusat Data Islam Nusantara

Bupati Kudus, Musthofa, menghadiri bedah buku 'Mitologi Ritual Budaya‎ Kaki Muria', di gedung olahraga STAIN Kudus, Kamis (2/3).

Budayawan Ingin Kudus Menjadi Pusat Data Islam Nusantara
tribunjateng/yayan isro roziki
Bupati Kudus, Musthofa, memberi ulasan dalam bedah buku 'Mitologi Ritual Budaya Kaki Muria', di STAIN Kudus, Kamis (2/3). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS -- Bupati Kudus, Musthofa, menghadiri bedah buku 'Mitologi Ritual Budaya‎ Kaki Muria', di gedung olahraga STAIN Kudus, Kamis (2/3).

Selain Musthofa, hadir sebagai pembicara, Wakil Ketua 1 STAIN Kudus, Saechan Muchith; sejarawan Kudus, Edy Supratno; dan budayawan, Nur Said.

Buku setebal 210 halaman yang terbagi dalam tiga bab itu, merupakan kumpulan tulisan dari para aktivis lembaga pers mahasiswa (LPM) Paradigmaa STAIN Kudus. Buku itu bercerita tentang ritual-ritual tradisi-budaya yang a‎da di sekitar kaki Pegunungan Muria.

Waka 1 STAIN Kudus, ‎Saechan Muchith, mengatakan ketika berbiacara soal Muria, maka pling tidak ada tiga persepsi yang akan terlintas dalam pikiran. Yakni, soal Sunan Muria, gunung, dan karakter dan tradisi budaya Pantura.

"Berbicara Pantura, ciri khasnya adalah masyaarakat yang religius kemajuan budaya. Muria juga bukan melulu menyangkut Kudus, ada Jepara dan Pati juga," ujarnya.

Menurut dia, Kudus punya dua ikon majunya budaya yang ada, serta tingginya tingkat religiusitas masyarakatnya: Sunan Kudus dan Sunan Muria. ‎"Kita punya potensi untuk mengembangkan wisata religi, karena itu tak salah jika kampus ini akan membuka program studi (prodi) pariwisata syariah, mulai tahun ajaran depan," ujarnya.

Bupati Kudus, Musthofa, mengatakan ia sangat mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Menurut dia, biasanya buku ditulis oleh para dosen. "Tapi ini luar biasa, para mahasiswa sudah berpikir menerbitkan buku," katanya.

Di samping itu, diujarkan, dari segi desain buku tersebut cukup menarik. Menurut dia, bagian yang paling menarik adalah bagian gambar tumpeng. "Gawe desain iki do poso pirang dino (untuk membuat desain seperti ini puasa berapaa hari). Besok, saya ingin buku ini menjadi souvenir bagi tamu undangan saat kirab budaya ‎Sewu Kupat di Taman Ria Colo," tuturnya.

Sementara itu, ‎Nur Said, mengatakan Sunan Kudus dikenal sebagai waliyul ilmi atau guru besar para wali, lantaran kedalamannya dalam menguasai berbagai disiplin ilmu. Sunan Kudus, lanjutnya, juga dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi toleransi.

Lantaran itu, menurut dia, dalam tiap-tiap ritual tardisi-budaya Kudusan, mengandung nilai filosofi yang tinggi. "Semisal, dalam semangkuk soto kerbau, itu terdapat internalisasi filosofi tentang toleransi, karena dulu Sunan Kudus meminta warga agar tak menye‎mbelih sapi, sebagai bentuk penghormatan kepada umat beramagama lain," ujarnya.

Berdasar berbagai hal tersebut, Nur Said ingin agar Kudus menjadi pusat data tentang Islam Nusantara, atau paling tidak menjadi pusat data budaya Pantura. "Tentunya, itu sangat menarik, dan untuk mewujudkannya butuh peran berbagai pihak," ucapnya.

Sejarawan Kudus, Edy Supratno, mengkritis penulisan buku '‎Mitologi Ritual Budaya‎ Kaki Muria'. Menurut dia, kendati kumpulan tulisan, buku tersebut ‎harusnya dilengkapi dengan daftar pustaka. Sehingga, pembaca dapat melacak sumber-sumber penulisan yang ada.

"Untuk menjadi buku ilmiah, harusnya ini dilengkapi dengan daftar pustaka, itu penting," ujarnya.

Dia berujar, saat ini banyak data atau naskah tentang tradisi-budaya di sekitar Muria, yang ber‎aa di Belanda. "Kami akan sangat senang, jika ada pihak yang mendorong agar sejarawan di Kudus dapat ke sana, dan mengambil data-data itu, meski berupa soft copy,‎" tuturnya. (*)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved