Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Lahan Pertanian di Klaten Ini Tergenang Selama 27 Tahun, Ini Solusi Ganjar

Sehingga, selama puluhan tahun itu pula para petani pemilik lahan tak bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam

Penulis: m nur huda | Editor: muslimah
tribunjateng/dok
Langkah Gubernur Jateng mengeluarkan izin lingkungan yang baru untuk PT. Semen Indonesia di Rembang, menuai kecaman dari LBH Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM, KLATEN - Sudah sekitar 27 tahun lamanya lahan pertanian seluas sekitar 100 hektare lebih di Desa Sengon Kecamatan Prambanan, Desa Kerten, Desa Sawit, Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, tergenang air setinggi 60 sampai 100 sentimeter.

Sehingga, selama puluhan tahun itu pula para petani pemilik lahan tak bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam.

Seorang petani di Desa Katekan, Marito (58), mengadu pada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat meninjau area lahan yang tergenang air tersebut, Kamis (2/3/2017). Ganjar datang ke lokasi setelah mendapatkan laporan dari warga melalui media sosial.

"Selama lebih dari 27 tahun kita nggak pernah panen karena lahan tergenang. Air datang dari Yogya, sementara air tidak bisa mengalir ke sungai karena tersumbat adanya dua bendungan di daerah bawah. Kami minta normalisasi supaya air lancar," kata Marito.

Ia menyebutkan, untuk Desa Katekan saja lahan yang tergenang seluas 41 hektare, di Desa Sengon sekitar 61 hektare. Maka warga meminta pemerintah ikut membantu menyelesaikan persoalan warga ini.

Mendengar keluhan itu, Ganjar kemudian meminta warga mengantarnya menuju sungai, pintu air dan dua bendungan.

Menurutnya, jika melihat kondisi yang ada maka tidak mungkin air bisa dikeringkan karena lahan pertanian berada di cekungan yang terlalu dalam.

"Dulu ada Ulu-Ulu yang ngatur air (perangkat desa yang bertugas mengatur aliran air), sekarang sudah nggak ada. Akhirnya air nggak dimenej, pintu nggak dibuka tutup dengan baik," kata Ganjar.

Maka langkah yang diambil, pemerintah mulai dari Pemkab Klaten, Pemprov Jateng, dan BBWS akan membuat kajian lebih lengkap mengenai masalah tersebut, guna mengetahui langkah apa yang harus dilakukan untuk jangka panjang. Langkah dalam jangka pendek, adalah menempatkan petugas jaga pintu air yang akan mengatur aliran.

"Tapi memang perlu ada peremajaan teknis di sistem perairan yang perlu direview," katanya.

Di sisi lain, Ganjar menyarankan, ada alternatif yang bisa dikembangkan yaitu dijadikan tempat wisata air sekaligus untuk menabung air di musim kemarau. Karena jika melihat view yang ada, hamparan luas dengan latar belakang gunung tentu akan luar biasa.

"Nanti kita dorong pelatihan perikanan dan kepariwistaan. Mungkin malah itu bisa jadi rejeki dari Gusti Allah yang hari ini manusia dituntut lebih inovatif dan kreatif dengan posisi alamnya," katanya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved