Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngamen Dapat Rp 100 Ribu, Ngemis Memperoleh Rp 400 Ribu Lumayan, Video Rakor Dinsos

inas Sosial (Dinsos) Kota Semarang menggelar rapat koordinasi (rakor) penanganan anak jalanan (anjal) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
tribunjateng/galih permadi
Dinsos Kota Semarang menggelar rakor penanganan anak jalanan ( dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di ruang rapat Dinsos, Kamis (2/3). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang menggelar rapat koordinasi (rakor) penanganan anak jalanan (anjal) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di ruang rapat Dinsos, Kamis (2/3).

Rakor Dinsos digelar untuk menyelesaikan permasalahan anjal dan PMKS di Kota Semarang.

Salah satu peserta rapat yang hadir yakni pengurus Panti Asuhan Al Mustaghfirin, Gufron mengatakan tidak semua panti asuhan menerima anjal. Panti Asuhan Al Mustaghfirin menerima anjal mempunyai misi mengubah nasib anjal.

"Kami menerima anjal untuk diarahkan memperbaiki diri menatap masa depan dengan baik. Kami didik untuk sekolah hingga sampai kuliah," ujarnya.

Pengurus Panti Asuhan Al Mustaghfirin, Gufron
Pengurus Panti Asuhan Al Mustaghfirin, Gufron (tribunjateng/galih permadi)

Gufron mengatakan ada dua tipe anjal yakni Childreen of the Street dan Children On the Street. Children of the Street merupakan anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Sedangkan Children On the Street yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga.

"Children of the Street ini yang susahnya minta ampun untuk diarahkan. Namun manusia bisa saja berubah. Dari 50 anak, lima anak bisa berubah itu sudah bagus. Ada anak asuh kami yang dulu anjal di Terminal Terboyo, setelah diarahkan mau bekerja jadi sopir bus. Sedangkan Children On the Street perlu komunikasi dengan keluarga dan menuntaskan permasalahan yang tidak mudah karena perlu pemberdayaan," kata Gufron.

Gufron mengatakan sulitnya mengubah pandangan hidup anjal lantaran mereka memiliki kepuasan tersendiri ketika hidup di jalanan. "Anjal merasa puas ketika dapat uang. Tidak sampai memikirkan bagaimana masa tuanya nanti. Ngamen baru dapat Rp 100 ribu per hari saja dibilang sepi, ngemis baru dapat Rp 400 ribu dibilang lumayan. Kalau anak-anak jual koran tidak seberapa, paling Rp 15 ribu-Rp 20 ribu sudah cukup," ujarnya.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Semarang, Tri Waluyo mengatakan kapasitas Panti Rehabilitasi Among Jiwo terbatas sehingga keberadaan panti asuhan yang menerima anjal sangat membantu dalam penanganan anjal di Kota Semarang.

"Ada Al Mustaghfirin di Bangetayu Wetan dan Al Hikmah di Ngaliyan yang menerima anjal. Saat ini ada sekitar 340 anjal di Kota Semarang yang tersebar di sembilan titik di antaranya Gunung Brintik Kalisari, Kaligawe, dan sekitar Pasar Johar. Perlu penanganan yang terintegrasi agar masalah anjal bisa segera diselesaikan," ujarnya. (Tribun Jateng, Galih Permadi)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved