Polemik Pasar Kobong, Walikota Semarang Turun Langsung ke Pasar. Ingin Bicara Hati ke Hati

Suasana Pasar Rejomulyo lama atau dikenal Pasar Kobong mendadak riuh ketika Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi datang Sabtu (4/3) sekitar pukul 23.00

Polemik Pasar Kobong, Walikota Semarang Turun Langsung ke Pasar. Ingin Bicara Hati ke Hati
tribunjateng/galih permadi
Dinas Perdagangan Kota Semarang menggelar sosialisasi akhir relokasi pedagang Pasar Kobong ke Pasar Rejomulyo baru di Pasar Rejomulyo baru, Senin (6/2/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Suasana Pasar Rejomulyo lama atau dikenal Pasar Kobong mendadak riuh ketika Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi datang Sabtu (4/3) sekitar pukul 23.00. Kedatangan Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi ingin mengetahui kondisi pedagang saat beraktivitas.

Hendi tampak tak canggung menelusuri jalan-jalan pasar yang becek untuk bertemu dengan pedagang ikan basah di pasar tersebut. Hendi kemudian mengajak makan bersama para pedagang untuk berdiskusi terkait upaya menghidupkan pasar Rejomulyo.

"Sabtu malam saya yang sowan kepada para pedagang untuk bicara dari hati ke hati tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh kawan-kawan pedagang. Kalau diskusinya santai kan enak, daripada berbondong-bondong demo, saya saja yang ke sana kan lebih baik," ujarnya, Minggu (5/3).

Untuk mencegah pasar rakyat di Kota Semarang mangkrak, Hendi perintahkan Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang untuk menyegel 350 kios di 44 pasar di Kota Semarang karena tak kunjung ditempati pedagang lama.

Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 9 tahun 2013. Dalam pasal 17 disebutkan, "Setiap pedagang yang menempati toko/kios dan los di kawasan pasar wajib mempunyai ijin. Serta dalam pasal 38 point H disebutkan, "setiap pemegang ijin dilarang menutup tempat usaha (tidak memanfaatkan/tidak melakukan aktifitas) dalam jangka waktu 3 bulan berturut-turut atau 6 bulan terputus-putus tanpa persetujuan Walikota atau pejabat yang ditunjuk".

Dan salah satu pasar yang berpotensi dilakukan penindakan serupa adalah Pasar Rejomulyo. Namun Walikota Hendi sangat menyayangkan jika penindakan serupa juga terjadi di Pasar Rejomulyo.

"Berdasarkan kunjungan itu kondisi Pasar Rejomulyo Baru kurang memadai. Perlu perbaikan menyeluruh dan perencanaan yang lebih matang. Saya akan diskusikan dalam waktu seminggu lagi untuk menentukan keputusan terkait Pasar Kobong," ujarnya.

Hendi mengatakan jika sesuai Perda kawasan Pasar Kobong menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH). "Jika lahan seluas 7.000 meter persegi dari 4,5 hektare bisa digunakan perekonomian ya tidak masalah. Tapi kalau tidak memungkinkan ya tidak bisa," ujarnya.

Hendi berharap ada dukungan dari para pedagang untuk menghidupkan Pasar Rejomulyo Baru paska revitalisasi yang dilakukan oleh Pemkot Semarang. "Namun pedagang enggan pindah karena bangunan tidak mendukung aktivitas berdagang. Beberapa keinginan sudah dipenuhi Pemkot Semarang, namun pedagang masih enggan pindah.

"Pedagang sudah lama berjualan disini dan menjadi prioritas kami, ini yang perlu dicatat. Namun karena menjadi prioritas tersebutlah sehingga besar harapan saya pedagang dapat bersinergi dengan kami, dan segera menempati pasar Rejomulyo baru," kata Hendi.

Sementara itu, perwakilan pedagang Pasar Rejomulyo, Zainal Abidin mengapresiasi kehadiran walikota ke Pasar Kobong.

"Saya senang beliau mau terjun melihat secara langsung teman-teman pedagang. Ini demi mendukung perekonomian pasar Ikan basah Rejomulyo alias pasar kobong yang legendaris," ujarnya.(*)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved