Liputan Khusus
VIDEO Kondisi Jembatan Timbang di Jawa Tengah Terkini
Tribun Jateng menyambangi Jembatan Timbang Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (9/3) siang
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Tribun Jateng menyambangi Jembatan Timbang Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kamis (9/3) siang. Dalam ruangan, terlihat seorang pria sibuk menulis di meja panjang sambil berdiri. Laki-laki berseragam putih biru dengan bet bertuliskan Kementerian Perhubungan pada lengan baju sebelah kanannya itu menemui dan lalu memperkenalkan diri sebagai petugas jaga di Jembatan Timbang Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang.
Profesi tersebut telah dilakoninya sejak 16 tahun lalu. Namun sampai saat ini statusnya masih pegawai non-PNS di Kementerian Perhubungan, instansi yang mengambil alih pengelolaan jembatan timbang dari Dinas Perhubungan.
Selama masa transisi alih kelola jembatan timbang banyak keluh kesah yang dirasakan. Mulai dari belum mendapat kejelasan status kepegawaian sampai belum menerima gaji sejak tiga bulan ini.
Untuk menutupi kebutuhan keuangan keluarga, sebagai gantinya pria warga Randu Gunting, Ungaran tersebut berjualan gas elpiji di rumah.
Meski berat, Setiyono mengaku masih tetap bertahan bekerja di jembatan timbang karena telah mencintai pekerjaannya dan mengabdi cukup lama.
Keterlambatan pembayaran gaji tidak kali ini saja ia rasakan, namun telah berulang-ulang, tepatnya semenjak jembatan timbang berhenti beroperasi.
"Ini sudah sekitar dua tahun Jembatan Timbang Klepu sudah tidak beroperasi. Saya ingat betul karena berbarengan dengan kelahiran anak saya. Sejak saat itu kadang gajian, kadang tidak. Harapan saya semoga ada kejelasan," imbuhnya.
Setiyono buka-bukaan terkait aksi pungutan liar (pungli) di jembatan timbang. Menurutnya hal tersebut juga terjadi di tempat ia bekerja. Namun tidak semua petugas melakukan aksi pungli.
"Ada yang mau (menerima uang suap pungutan liar-red), tapi ada juga yang tidak mau. Tergantung pribadi masing-masing. Ya namanya juga manusia, kadang ada khilafnya" ujarnya.
Ketika Jembatan Timbang Klepu masih beroperasi, Setiyono biasanya bertugas membantu menertibkan laju kendaraan yang hendak masuk ke jembatan timbang. Namun, terkadang ia juga membantu di dalam, ketika ada petugas absen.
"Seringnya ngatur antrean kendaraan. Tapi saya juga bisa mengoperasikan alat di jembatan timbang kalau ada petugas yang libur kerja," pungkasnya.
Kini di saat jembatan timbang untuk sementara berhenti beroperasi, pria berambut cepak ini bertugas menjaga aset kantor supaya tidak hilang dicuri atau rusak tidak terawat. Selama 24 jam terdapat dua orang petugas yang secara bergiliran menjaga kantor. "Pernah kejadian genset hilang tapi sekarang sudah diganti. Setiap harinya dibagi dua shift," imbuhnya.
Masih tutup
Sejak peralihan kewenangan pengurusan jembatan timbang ke pemerintah pusat, hingga kini belum ada satu pun jembatan Timbang di Jateng yang buka. Koordinator Jembatan Timbang, Jawa Tengah, Bambang Syamsul Hilal mengatakan masih menunggu perintah Dirjen Perhubungan darat.
Ia menjelaskan, di Jawa Tengah terdapat 14 jembatan timbang yang siap beroperasi.
"Aslinya ada 17 jembatan timbang. Tapi jembatan timbang Kota Semarang sudah ditutup sejak 2008, lalu jembatan timbang di Butuh (Purworejo) dan Demak masih bermasalah dengan status tanah," jelasnya.
Pada Desember 2016, Kementerian Perhubungan berencana membuka 50 jembatan timbang secara nasional. Jawa Tengah mendapat jatah membuka empat Jembatan Timbang yaitu Jembatan Wanareja (Cilacap), Jembatan Timbang Subah (Kabupaten Batang), Jembatan Timbang Tanjung (Brebes) dan Jembatan Timbang Sarang (Rembang).
Kemudian, rencana tersebut kembali berubah. Kemenhub berencana membuka 25 jembatan Timbang secara nasional. Jawa Tengah dipercaya membuka JT Subah Batang dan JT Wanareja Cilacap.
Syamsul menuturkan, seharusnya jembatan timbang sudah buka per 1 Maret. Namun masih ada beberapa kendala mulai dari sarana dan prasarana, kelengkapan administrasi hingga dana. "Karena itu posisi kami pasif saja, menunggu perintah dari Kemenhub," jelasnya.
Ia mengungkapkan meskipun belum buka, 232 petugas JT sudah bertugas. Pihaknya melaksanakan penjagaan aset setiap hari. Setiap jembatan timbang dijaga empat orang, yang terdiri atas dua PNS dan dua tenaga kebersihan.
Terkait kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di Jembatan Timbang, pria berkumis itu mengaku masih kurang. Tiap jembatan timbang paling tidak butuh 30 petugas.
Jumlah Petugas JT yang dibutuhkan minimal 420 orang. Saat ini, jumlah PNS Jembatan timbang hanya 232 orang. (tribunjateng/tim lipsus)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/liputan-khusus-terkait-jembatan-timbang-di-jawa-tengah_20170313_102600.jpg)