Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Forum Mahasiswa

Kamus Oxford, Orang Gila, dan Kita

Dua keputusan besar yang dilakukan James Murray setelah ditunjuk sebagai editor kamus Oxford English Dictionary.

Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM -- Dua keputusan besar yang dilakukan James Murray setelah ditunjuk sebagai editor kamus Oxford English Dictionary. Pertama, ia membangun skriptorium untuk tempat menyunting naskah. Kedua, Ia membuat surat pengumuman sepanjang empat halaman kepada orang-orang yang berbicara dan membaca bahasa Inggris. Agar berpatisipasi menjadi voluntir pencari kutipan setiap kosakata yang dibutuhkan oleh panitia penggarap kamus Oxford English Dictionary (Simon Wichester, 2007).

Selebaran disebar disetiap penjuru Inggris. Satu dari jutaan selebaran itu mendarat di alamat Blok 2 Broadmoor Asyium For the Criminally Insane di Crowthorne, Berkshire. W.C. Minor yang menghuni alamat itu tampak girang atas ajakan tersebut. Ia menyanggupi ajakan yang dibuat oleh James Murray. Minggu demi Minggu, W.C. Minor selalu mengirimkan kutipan yang dibutuhkan oleh James Murray. Uniknya, referensi kutipan yang digunakan oleh W.C. Minor adalah buku-buku dari abad 16 sampai 19. Pergaulannya dengan buku-buku tua memberikan berkah baginya. Ia tampak yang paling terampil di antara voluntir lainnya.

Dalam hal jumlah Minor menjadi penyumbang terbanyak. James Murray mengatakan:“Posisi teratas… jelas diduduki oleh Dr. W.C. Minor dari Broadmoor, yang selama dua tahun terakhir mengirim tak kurang dari 12.00 kutipan… Begitu besarnya sumbangan-sumbangan Dr. Minor selama 17 atau 18 tahun belakangan sehingga dengan mudah kita dapat mengilustrasikan empat abad terakhir lewat kutipan-kutipan dari beliau saja.”

Selama bertahun-bertahun bekerja sama mengerjakan kamus, raga mereka belum pernah bertemu. Hingga pada akhirnya proyek kamus selesai dan W.C. Minor tampil sebagai penyumbang kutipan terbanyak. James Murray yang bertugas sebagai editor kamus perlu menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung kepada W.C. Minor.

Agenda pertemuan disusun. Perjalanan dari Oxford menuju tempat tinggal Minor ditempuh. Sesampai di alamat tujuan, Murray telah berjumpa seseorang yang dari tampilan fisik tampaknya memiliki jabatan penting. Murray menyapanya. ”Sir, saya adalah Dr. James Murray dari London Philogical Society dan editor Oxford English Dictionary. Dan Anda, Sir, pastilah Dr. William Minor. Akhirnya−setelah sekian lama−saya betul-betul terhormat mendapat kehormatan bertemu dengan Anda.”

Orang yang dikira W.C Minor itu dengan agak menyesal menjawab sambutan ramah dari Murray. “Dengan sangat menyesal, Sir, saya tak dapat menerima sanjungan itu. Saya adalah Superintendent… Dokter Minor orang Amerika, dan beliau salah seorang penghuni kami yang paling lama tinggal di sini. Dulu beliau melakukan pembunuhan. Beliau sakit jiwa.”

Perbincangan paling menakjubkan antara editor dan penyumbang kutipan terjadi di rumah sakit jiwa. Kita tentu sulit menganggap kisah ini wajar. Disetiap lembaran-lembaran kamus Oxford yang kita pegang, ternyata terekam jasa besar seorang pengidap sakit jiwa.

Secara sekilas kita gampang tersihir oleh kisah W.C. Minor. Tapi pada sisi lain, kita pantas menengok dan meniru bagaimana otoritas Inggris, baik pemerintah maupun masyarakatnya, memanusiakan orang gila.

Kita sulit membayangkan bagaimana proses pemindahan buku-buku W.C. Minor dari rumah menuju rumah sakit jiwa. Dan bagaimana W.C. Minor bisa dengan rutin mengirim dan menerima surat dalam proses penggarapan tersebut. Siapa yang bersedia mengambil surat di kamar dan kemudian mengantarkannya. Tentu seorang perawat, perawat yang memanusiakan orang gila.

Dari kisah Minor itu tadi kita tidak hanya tahu sejarah kamus Oxford. Tetapi juga bagaimana seorang yang mengidap sakit jiwa diperlakukan sangat manusiawi. Bahkan diberi kesempatan berkontribusi dalam proyek besar keilmuan.

Cerita itu bisa kita jadikan sindiran atas kondisi sosial di lingkungan kita. Di Semarang, seorang penghuni rumah sakit jiwa memohon kepada Ganjar Pranowo:“Pak Ganjar tolong saya. Saya Ndak gila tapi difitnah Gila. Sy sekarang ada di RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO. Nama sy Endang Lukito. Tolong keluarkan saya dari RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO sekarang pak. Tolong, saya mohon dengan amat sangat” (Tribun Jateng, 09/03/2017).

Sedangkan di daerah Pantura, orang-orang gila menjadi sasaran amuk massa. Tersebarnya isu penculikan anak bermodus pura-pura gila membuat orang-orang gegabah melakukan penghakiman kepada orang gila di jalanan. Hadi Muslikhin (19) nyaris mampu setelah dikeroyok warga karena diteriaki penculik. Padahal sebenarnya ia pencari kerja karena tidak bisa mampu membayar ongkos bus diturunkan di tengah jalan (Koran Tempo,11-12/03/2017). Maraknya isu tersebut yang tersebar di dunia maya membuat kita yang di dunia nyata mudah kehilangan kewarasan.

Pelaku dan korban pada akhirnya adalah korban. Si pelaku pengeroyokan menjadi korban hoax di media sosial. Sedangkan korban pengeroyokan menjadi korban kemarahan masyakarat yang terkontaminasi hoax. Kita paham orang-orang gila di pinggir jalan bukan musuh mereka yang waras. Kita yang memiliki akal lebih normal seharusnya bisa bersikap lebih manusiawi kepada mereka yang terpinggirkan. Ingat pesan Pak Polisi,”Waspada boleh, tapi jangan berlebihan.”

Muhammad Yunan Setiawan

Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Semarang (USM),Santri di Rumah Kegiatan Singosari Sembilan (RKSS)

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved