Industri Pengolahan Sumbang Pajak Rp 1,6 Triliun, Rokok Beri Kontribusi Terbesar

Industri Pengolahan Sumbang Pajak Rp 1,6 Triliun, Rokok Beri Kontribusi Terbesar

Penulis: raka f pujangga | Editor: iswidodo
tribunjateng/raka f pujangga
Kepala Kanwil DJP Jawa Tengah I, Irawan menggelar jumpa pers, di kantornya, Selasa (21/3/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak di wilayah Jawa Tengah I. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jateng I Irawan, Selasa (21/3).

"Dari awal tahun hingga 20 Maret 2017, penerimaan pajak dari industri pengolahan mencapai Rp 1,661 triliun atau meningkat sebesar 64,64 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, yaitu Rp 1,009 triliun," katanya di Semarang.

Dengan capaian tersebut, industri pengolahan telah memberikan kontribusi sebesar 40,09 persen dari total penerimaan pajak. Menurut Irawan, ini menjadi bukti industri pengolahan di Jateng tumbuh positif. "Kebanyakan, industri pengolahan di Jateng I adalah rokok, bahkan dari keseluruhan penerimaan pajak pada tahun lalu, rokok memberikan kontribusi sebesar 26 persen," katanya.

Terkait hal itu, dia tidak memungkiri, jika suatu saat industri rokok lesu akan memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan pajak. Oleh karena itu, pihaknya menilai, perlu adanya penambahan jenis lapangan usaha khususnya di Jawa Tengah I.

Secara keseluruhan, realisasi penerimaan pajak di bawah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah I menduduki peringkat tertinggi secara nasional, yaitu mencapai Rp 4,18 triliun. "Realisasi ini, dari awal 2017 hingga 20 Maret 2017," imbuh Irawan.

Dia mengatakan, realisasi penerimaan pajak tersebut menunjukkan capaian pajak sudah mencapai 13,21 persen dari target penerimaan pajak tahun 2017 sebesar Rp 31,63 triliun. "Penerimaan ini mengalami pertumbuhan sebesar 17,29 persen dibandingkan periode sama tahun 2016," katanya.

Dari total penerimaan ini, Rp 296,14 miliar di antaranya merupakan kontribusi dari uang tebusan amnesti pajak yang saat ini memasuki periode ketiga. "Program Amnesti Pajak sendiri berakhir pada 31 Maret 2017. Harapannya, khusus uang tebusan dari amnesti pajak saat itu bisa mencapai Rp 500 miliar," katanya.

Meski demikian, sebetulnya, jika melihat capaian untuk uang tebusan amnesti pajak di periode ketiga ini sudah melewati target awal yaitu Rp 110 miliar. Irawan mengatakan, sudah ada 39.236 wajib pajak di Kanwil DJP Jateng I yang memanfaatkan Program Amnesti Pajak ini dengan total uang tebusan sebesar Rp 8,17 triliun.

Untuk total harta yang dideklarasikan mencapai Rp 360,195 triliun dengan rincian, deklarasi dalam negeri sebesar Rp 278,91 triliun, deklarasi luar negeri sebesar Rp 56,20 triliun, dan repatriasi sebesar Rp 25,07 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Hamid Ponco Wibowo, menambahkan, program amnesti pajak dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Jateng.‎ Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah saat ini sebesar 5,28 persen yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara nasional 5,02 persen. (tribunjateng/ant/raf)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved