Hendi Kutip Kalimat Gus Mus Yang Ini Saat Buka Silaturahmi Pemerintah dan Tokoh di Semarang

Perbedaan, kata Hendi, melihat permasalahan tergantung dari sudut pandang melihatnya.

Hendi Kutip Kalimat Gus Mus Yang Ini Saat Buka Silaturahmi Pemerintah dan Tokoh di Semarang
Istimewa
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi saat membuka forum silaturahmi paguyuban pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat (petamas) Kota Semarang di Hotel New Puri Garden, Kamis (23/3). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menaruh harapan besar kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat Kota Semarang untuk dapat mengimplementasikan pesan bijak yang pernah disampaikan KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal Gus Mus.

Karena di dalam kalimat tersebut terdapat makna yang bisa diterapkan langsung untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan sebagai manusia yang bersosialisasi di masyarakat.

"Hari ini saya menyitir kalimat bijak dari Gus Mus. Kalimatnya menurut saya menarik diartikan masa ini, kurang lebih seperti ini bunyinya: Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatnya berbeda," kata Hendi saat membuka forum silaturahmi paguyuban pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat (petamas) Kota Semarang di Hotel New Puri Garden, Kamis (23/3/2017).

Menurut Hendi sapaan akrab wali kota, bila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari kalimat bijak tersebut mengajarkan untuk selalu memandang semua hal dari sisi positif agar rasa iri dan dengki tidak bergejolak di hati.

Jika sudah ada iri dan dengki, itu bisa memecah belah persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.

"Contoh kasus misalnya tetangga bisa membeli motor. Kita harusnya berpikir positif dan bersyukur atas kemudahan yang dicapai tetangga tersebut, alhamdulilah punya tetangga bisa beli motor. Jangan mencap tetangga dengan yang tidak-tidak, tetangga saya kok bisa beli motor padahal dia hanya seorang staf, gaji staf memang cukup untuk beli," jelas dia.

Perbedaan, kata Hendi, melihat permasalahan tergantung dari sudut pandang melihatnya.

"Jika hari ini melihat sesuatu yang salah maka pergerakan apapun yang dilakukan pasti keliru. Tetapi kalau kemudian kita melihat orang lain melakukan sesuatu yang positif, maka kita juga akan melihat hal-hal yang baik dari orang tersebut," sambung dia.

Hendi berharap, tokoh agama dan masyarakat agar terus menjaga kondusifitas Kota Semarang yang selama ini telah dilakukan.

"Persatuan yang kuat serta keharmonisan yang terjaga adalah merupakan modal kita bersama untuk dapat memajukan Kota Semarang untuk menjadi lebih baik dan lebih hebat lagi," lanjut Hendi.

Hadir pula sebagai narasumber pada kegiatan tersebut akademisi/psikolog UNDIP Semarang, Hastaning Sakti yang mengulas tema mengelola kesehatan mental dalam berinteraksi sosial untuk memperkuat kemitraan dan keharmoonisan masyarakat dan Ongkowijaya dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu, memaparkan kemitraan dan keharmonisan interaksi sosial dalam ajaran agama.

Sementara itu, Abel Monterio, dari Badan Penanggulangan Bencana Alam Kota Semarang mengusung materi sistem tata kelola penanggulangan bencana alam untuk memperkuat kemitraan dan keharmonisan interaksi sosial.

Dan kearifan lokal masyarakat kota semarang dalam memperkokoh ketahanan bangsa yang dipaparkan budayawan Kota Semarang, Djawahir Muhammad. (*)

Penulis: galih permadi
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved