FOCUS

Kemurkaan Shima

Hatta, Shima pun murka, ketika mendengar kabar tentang putranya, sang putra mahkota, berani menyentuh kantong berisi emas yang teronggok di jalan

Kemurkaan Shima
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Sejumlah finalis Puteri Indonesia 2017 hadir di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/3/2017). Sebanyak 38 finalis Puteri Indonesia 2017 melakukan kunjungan ke markas lembaga antirasuah untuk menerima pengarahan dan pembekalan antikorupsi dalam masa karantina. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNJATENG.COM - Hatta, Shima pun murka, ketika mendengar kabar tentang putranya, sang putra mahkota, berani menyentuh kantong berisi emas yang teronggok di tengah jalan Kalingga. Dengan kaki pula.
"Panggil putraku segera. Dia harus menerima hukuman atas kelancangannya," perintah sang maharani Kerajaan Kalingga itu kepada penggawanya.

Ratu Shima pantas marah. Dia telah bersusah payah membangun kejujuran warganya. Warga Kalingga, sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad VI Masehi. Bertahun-tahun, Shima mendidik warga untuk hanya mengambil haknya, mengedukasi rakyat untuk tidak mengambil segala yang bukan jatahnya.
Namun, tindakan sang putra mahkota telah meruntuhkan kerja keras itu. Sang putra mahkota telah berani "menyentuh" kantong emas di tengah jalan, yang terang bukan haknya.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan bersama, pendiri Yayasan Puteri Indonesia (YPI) Mooryati Soedibyo, Ketua Dewan Pembina YPI Putri K Wardani, dan Puteri Indonesia 2016 Kezia Roslin Cikita Warouw menjawab pertanyaan wartawan usai acara pembekalan finalis Putri Indonesia 2017 di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/3/2017).  TRIBUNNEWS/HERUDIN
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan bersama, pendiri Yayasan Puteri Indonesia (YPI) Mooryati Soedibyo, Ketua Dewan Pembina YPI Putri K Wardani, dan Puteri Indonesia 2016 Kezia Roslin Cikita Warouw menjawab pertanyaan wartawan usai acara pembekalan finalis Putri Indonesia 2017 di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/3/2017). TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN)

Pada awalnya, ratu bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara itu hendak menjatuhkan hukuman mati terhadap putranya. Namun, para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran.

Singkat kata, Ratu Shima kemudian mengubah putusannya, dengan memotong kaki sang pangeran sebagai hukuman karena kaki sang pangeran menyentuh barang yang bukan miliknya.

"Pisau hukum berlaku bagi siapa saja. Tidak rakyat, tidak pangeran, semua patut--bahkan wajib--mendapatkan hukuman," titah sang maharani.

ACHIAR M PERMANA wartawan Tribun Jateng
ACHIAR M PERMANA wartawan Tribun Jateng (tribunjateng/cetak/grafis bram)

Begitulah ketegasan, begitulah hukum. Tidak pandang bulu, tidak tebang pilih. Tajam ke semua arah. Lantas, kalau sekarang berlaku pameo "tajam ke bawah, tumpul ke atas", siapakah yang dicontoh?

Kisah Ratu Shima dan ketegasannya dalam menegakkan hukum, berkelebat di kepala saya, ketika membaca berita mengenai pembekalan antikorupsi kepada para finalis Puteri Indonesia 2017.

Sejumlah 38 finalis Puteri Indonesia 2017 mengunjungi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menerima pengarahan dan pembekalan antikorupsi dalam masa karantina.

"Kami meminta kepada para finalis ini untuk menjadi agen perubahan. Mereka nantinya akan menjadi duta antikorupsi yang akan berbicara tentang pencegahan korupsi di daerah mereka masing-masing," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, di hadapan para finalis Putri Indonesia 2017, Senin (27/3/2017).

Sejumlah finalis Puteri Indonesia 2017 melambaikan tangannya saat meninggalkan Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/3/2017). Sebanyak 38 finalis Puteri Indonesia 2017 melakukan kunjungan ke markas lembaga antirasuah untuk menerima pengarahan dan pembekalan antikorupsi dalam masa karantina. TRIBUNNEWS/HERUDIN
Sejumlah finalis Puteri Indonesia 2017 melambaikan tangannya saat meninggalkan Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/3/2017). Sebanyak 38 finalis Puteri Indonesia 2017 melakukan kunjungan ke markas lembaga antirasuah untuk menerima pengarahan dan pembekalan antikorupsi dalam masa karantina. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN)

Bagi Yayasan Putri Indonesia, kehadiran para finalis Putri Indonesia 2017 ke KPK, memiliki makna penting. Salah satu "lulusan" ajang tersebut, tersandung kasus korupsi. Ya, Angelina Sondakh, Putri Indonesia 2001, kini mendekam di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, untuk menjalani hukuman 10 tahun penjara, setelah terbukti menerima suap Rp 2,5 miliar dan 1,2 juta dolar AS dalam pembahasan anggaran di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Halaman
12
Penulis: achiar m permana
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved