Breaking News:

Petani Stroberi di Serang Purbalingga Alami Gagal Panen Karena Cuaca Ekstrem

Dalam kondisi normal, saat musim panen, setiap dua hari sekali ia bisa memetik 20 sampai 30 kilogram buah stroberi

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Petani sedang merawat kebun stroberi di desa Serang, Karangreja Purbalingga 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Nasib Suyanto sedang tidak mujur. Kebun stroberi miliknya di desa Serang, kecamatan Karangreja mengalami gagal panen karena pengaruh cuaca ekstrem, beberapa bulan belakangan ini.

Seharusnya, saat ini, ia bisa menikmati keuntungan dari puncak musim panen. Suyanto menanam delapan ribu bibit stroberi di ladang miliknya.

Dalam kondisi normal, saat musim panen, setiap dua hari sekali ia bisa memetik 20 sampai 30 kilogram buah stroberi. Setiap kilogram ia jual ke tengkulak dengan harga Rp 25 ribu.

Kebun stroberi di desa Serang, Karangreja Purbalingga
Kebun stroberi di desa Serang, Karangreja Purbalingga (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

"Kalau dihitung kerugian puluhan juta rupiah,"katanya, Rabu (5/4).

Cuaca ekstrem menyebabkan ratusan petani stroberi di desa Serang merana lantaran gagal panen.
Menurut Suyanto, cuaca ekstrem berdampak pada masifnya penyebaran penyakit langka.

Penyakit yang belum diketahui namanya itu mulanya menyerang daun, sehingga membuat daun stroberi menghitam atau gosong. Dari daun, penyakit itu menular batang dan membuat buah busuk.

Jika sudah akut, tanaman perlahan akan mati.

Para petani pun tidak bisa mengantisipasi penyebaran serta menyembuhkan penyakit baru itu.

"Petani hanya pasrah. Karena penyakitnya baru sehingga gak bisa diatasi. Disemprot pakai fungisida juga tidak mempan,"katanya

Petani stroberi di desa Serang bukan hanya merugi lantaran pendapatannya merosot. Karena banyak tanaman yang rusak atau mati, mereka tidak bisa melakukan pembibitan untuk musim tanam selanjutnya.

Menurut Suyanto, petani biasa membibitkan sendiri tanaman stroberi mereka untuk musim tanam selanjutnya. Satu tanaman stroberi dewasa bisa menghasilkan 4 sampai 6 bibit atau anakan baru.
Pembibitan secara mandiri dilakukan untuk menghemat biaya produksi. Pasalnya, harga bibit stroberi di pasaran cukup mahal, sekitar Rp 3.000.

Karena pembibitan gagal, kata Suyanto, tak jarang petani yang terpaksa beralih menanam tanaman lain karena tak mampu membeli bibit stroberi.

"Harga bibit juga jadi naik, sekarang per bibit Rp 3.500, padahal tahun lalu Rp 1.000. Untung saya masih ada sisa bibit tahun lalu, jadi masih bisa tanam," katanya.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved