Jelajah Museum dan Sejarah
Menguji Keperkasaan Lokomotif Tua di Atas Jalur Rel Bergerigi, Hanya Ada 2 Di Dunia
Dan yang teristimewa adalah jalur atau rel yang dilintasi bergerigi. Jalur tersebut hanya ada dua di dunia, yang masih aktif
Penulis: deni setiawan | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM - Suara ketel uap telah terdengar dari Dipo Lokomotif Kompleks Museum Kereta Api Ambarawa. Secara perlahan, lokomotif berwarna hitam berkode B5112 bergerak menghampiri stasiun. Para calon penumpang di stasiun tak sabar lagi untuk segera naik loko yang menarik tiga gerbong.

Ini adalah perjalanan pelesiran. Sang Kepala Stasiun Ambarawa pun telah bersiap membawa peluit morse serta tongkat berujung bundar berwarna hijau.
Setelah seluruh penumpang naik, sang kondektur bersiaga di gerbong, masinis Kereta Api Wisata tersebut kembali membunyikan klakson (ketel uap) sebagai tanda siap berangkat.
Kereta pun bergerak pelan meninggalkan stasiun seusai Kepala Stasiun membunyikan peluit morse dan mengangkat tongkat yang dipegangnya.
Asyiknya perjalanan wisata menggunakan si loko baja dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang pun dimulai. Untuk melakukan perjalanan itu setidaknya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

“Jaraknya tempuh perjalanan sekitar 7 kilometer. Untuk dapat naik KA Wisata tersebut, setiap penumpang dikenai tiket Rp 50 ribu,” kata Kepala Stasiun Ambarawa, Rahmayandi.
Pria yang akrab disapa Andi itu menerangkan, ada dua jenis lokomotif yang hingga saat ini masih bisa difungsikan untuk melayani wisatawan. Yakni lokomotif uap dan diesel. Tetapi yang rutin adalah lokomotif diesel berkode D 30124. Sekali perjalanan, batas maksimal penumpang adalah 120 orang atau hanya 3 gerbong.
“Kereta wisata ini hanya beroperasi setiap Minggu dan libur nasional. Waktu keberangkatan yakni pukul 10.00, 12.00, dan 14.00. Kami harus batasi pelayanan perjalanan, termasuk jumlah penumpangnya karena gerbong sudah berusia sangat tua. Perawatannya pun harus ekstra hati-hati,” terangnya.
Dari alasan itu pula, pihaknya pun mengambil kebijakan untuk tidak terlalu sering menggunakan lokomotif uap. Lokomotif bertenaga dari pembakaran kayu jati itu rata-rata digunakan apabila ada pesanan dari wisatawan rombongan. Selain rute Ambarawa-Tuntang-Ambarawa, juga tersedia rute khusus.
“Relasinya adalah Ambarawa-Bedono-Ambarawa. Tetapi perjalanan untuk rute tersebut sifatnya hanya sewa,” ucapnya.
Menurutnya, yang membedakan dari KA tersebut, lokomotif maupun gerbong merupakan peninggalan masa kolonial Belanda. Untuk menggerakkannya menggunakan tenaga yang dihasilkan dari pembakaran kayu jati.
“Dan yang teristimewa adalah jalur atau rel yang dilintasi bergerigi. Jalur tersebut hanya ada dua di dunia, yang masih aktif dilalui atau dioperasionalkan. Untuk pemandangan di rute tersebut, penumpang disuguhi hamparan perkebunan kopi Kelir. Sepanjang perjalanan, ada 2 titik pemberhentian,” ungkap Andi.
Yakni, lanjutnya, di Stasiun Jambu untuk pemindahan posisi lokomotif, dari semula berada di depan, dipindah ke belakang sebagai pendorong karena jalur yang mulai menanjak. Lalu di Logamakmur untuk menaikkan tekanan melalui pengisian air. Setiap berhenti itu, setidaknya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
“Dalam sebulan, paling hanya bisa diberangkatkan sebanyak 3 kali, untuk melayani wisatawan. Tidak bisa lebih. Itu semua demi perawatan dan menjaga kebertahanan lokomotif heritage tersebut,” tutur Andi. (deni setiawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kereta-uap_20170406_183102.jpg)