Smart Women

Kisah Pengelola Gardu Baca di Jepara, Awalnya Ditolak Sana-sini

“Awalnya hanya dihadiri oleh lima anak dan mereka datang pada hari Jumat,” tuturnya

Kisah Pengelola Gardu Baca di Jepara, Awalnya Ditolak Sana-sini
Tribun Jateng/Amanda Rizqiana
Risa Mutafariha 

TRIBUNJATENG.COM - Sosok Kartini telah menjadi inspirasi bagi wanita Indonesia mengenai pentingnya memiliki pengetahuan. Pengetahuan pulalah yang mengantarkan Risa Mutafariha untuk menjejaki diri meneruskan cita-cita mulia Raden Ajeng Kartini yang juga menjadi sosok ikonik di kota kelahirannya, Jepara.

Risa mengelola sebuah bimbingan belajar sukarela bernama Gardu Baca. Berawal dari sebuah gagasan untuk mendirikan Sanggar Belajar pada April 2016 di kediamannya, Desa Banjaragung RT 1 RW 3, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.

“Awalnya hanya dihadiri oleh lima anak dan mereka datang pada hari Jumat,” tuturnya pada Minggu (2/4).

Siswa yang hadir di Sanggar Belajar meminta diajari mewarnai dan atas inisiatifnya sendiri, ia mengajarkan bahasa Inggris. Sebuah keterampilan yang ia peroleh ketika mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Semarang, tepatnya sebagai mahasiswa program studi Sastra Indonesia, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ditambah ia pun memiliki rutinitas setiap libur semester genap, ia menempuh perjalanan hingga ke Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris.

“Saya memilih libur semester genap karena waktu libur yang cukup panjang dibanding waktu libur semester ganjil,” imbuh dara kelahiran Jepara, 17 Mei 1992.

Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sumito dan Maimunah mengajarkan bahasa Inggris secara ringan dan menyenangkan. Selain itu, anak didiknya selalu merasa senang dan tertarik untuk mengenal bahasa orang bule.

Setelah sepuluh bulan berjalan, anak didiknya semakin bertambah. Ada sekitar sepuluh anak dari tingkatan kelas berbeda. Melihat antusiasme tinggi dari peserta didik, Risa membulatkan tekad untuk meminta bantuan pada beberapa pihak.

“Alhamdulillah, saya pulang dengan jawaban yang sama, ‘Maaf, tidak ada dana, Mbak’ atau ‘Maaf, kami tidak dapat memberikan sumbangan’,” guraunya mengenang perjuangannya meminta sumbangan pada berbagai pihak.

Penolakan tersebut tak membuat Risa berkecil hati. Ia telah membulatkan tekad untuk membantu dan mendampingi siswa-siswanya. Di samping berusaha, ia pun berdoa agar upaya yang dilakukannya membuahkan hasil.

Halaman
1234
Penulis: amanda rizqyana
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved