Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Rikwanto: Anggota DPRD Pasuruan dari PKS Bukan Ditangkap Namun Dijemput

Nadir dan Budi Mastur hanya berniat untuk menyalurkan dana bantuan ke pengungsi Suriah di Turki dan Lebanon. "Bukan ditangkap namun dijemput,"

SURYA/HO
Foto kolase anggota DPRD Pasuruan, Jawa Timur Muhammad Nadir Umar saat diamankan Densus 88 di Terminal T2 Bandara Internasional Juanda, Sabtu (8/4/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Anggota DPRD Pasuruan dari PKS, Muhammad Nadir Umar, dititipkan di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Handayani Kementerian Sosial, Bambu Apus, Jakarta Timur, pasca-diamankan Densus 88 Antiteror sepulang dideportasi otoritas Turki karena memasuki wilayah Suriah.

Di RSPA Bambu Apus, Nadir menjalani beberapa tes assesment dari petugas dinas sosial. Dia juga menjalani pemeriksaan petugas Densus 88.

"Iya, yang bersangkutan dari Pasuruan masih di tempat kami. Hanya satu orang yang dititipkan ke kami. Yang dari Bandung enggak ada," ujar Kepala RSPA Handayani Kemensos, Neneng Heryani, saat dihubungi, Senin (10/4/2017).

Neneng menjelaskan, Nadir dibawa petugas Densus 88 ke RSPA Handayani pada Sabtu malam, 8 April 2017.

"Karena dia baru datang malam Minggu, di kami dia baru di-assesment awal, diberikan kebutuhan pokok dan asrama tempat tinggal. Kemarin, petugas Densus 88 sudah mem-BAP (pemeriksaan) dia. Dan sekarang sedang assesment lagi dari kami dan nanti informasinya akan BAP Densus lagi," jelasnya.

Menurut Neneng, pihaknya sebatas menerima rujukan dari Densus 88. Jika pihak Densus 88 menyimpulkan Nadir terindikasi terkait dengan jaringan ISIS, maka akan diberikan rehabilitas kepadanya selama sekitar sebulan di RSPA Handayani.

"Kalau tidak terindikasi, biasanya deportan Turki yang dibawa ke kami akan kami pulangkan," tukasnya.

Diberitakan, anggota DPRD Pasuruan Muhammad Nadir Umar dan aktivis LSM Forum Dakwah Nusantara (FDN), Budi Mastur, dijemput tim tim Densus 88 Antiteror Polri setiba di Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Husein Sastranegara Bandung pada Sabtu, 8 April 2017, petang kemarin.

Keduanya baru saja dideportasi otoritas Turki lantaran berupaya memasuki perbatasan Suriah yang diketahui menjadi basis kelompok radikal ISIS.

"Anggota DPRD tersebut bukan ditangkap, mamun dijemput karena setiap deportan yang berhubungan dengan Turki maupun informasi radikal dari pemerintah lain, seperti biasanya apabila ada FTF (Foreign Terrorist Fighter) yang dideportasi, diberitahukan ke Densus 88 untuk dilakukan pemeriksaan," ujar Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rikwanto, Minggu (9/4/2017).

Dari interogasi keduanya, diketahui keduanya berada di Turki selama enam hari sejak 1 April 2017. Namun, otoritas Turki mengetahui keduanya masuk ke wilayah Suriah dengan ikut rombongan relawan kemanusian Yayasan Quori Umah. Yayasan tersebut membawa misi pelanyaluran dana 20.000 Dollar Amerika Serikat untuk pengungsi di Turki dan Lebanon.

"Hasil interogasi keduanya, motivasinya untuk kedua WNI tersebut masuk ke wilayah Suriah dengan menggunakan cover relawan misi kemanusiaan, yang merupakan relawan dari Yayasan Qouri Umah," jelas Rikwanto.

Salurkan Bantuan Kemanusiaan

Pemeriksaan terhadap anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhammad Nadir Umar, mulai ada titik terang. Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) tersebut masuk ke Turki dan Lebanon untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi, namun karena masalah visa kemudian dideportasi oleh Imigrasi Turki.

Begitu mendarat di Bandara Juanda, Sabtu (8/4) lalu, Nadir ditangkap dan diperiksa Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Bukan hanya Nadir, Densus juga memeriksa seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), Budi Mastur, setelah mendarat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Sabtu petang.

Kepala Biro Penerangan Mabes Polri, Brigjen Rikwanto menuturkan, Nadir dan Budi Mastur hanya berniat untuk menyalurkan dana bantuan ke pengungsi Suriah di Turki dan Lebanon. "Bukan ditangkap namun dijemput," ujar Rikwanto, Minggu (9/4).

Keduanya berniat menyalurkan dana 20 ribu dolar AS atau setara Rp 266,9 juta kepada para pengungsi di Turki dan Lebanon. Kedua WNI itu masuk ke wilayah Suriah dalam kapasitas sebagai relawan misi kemanusiaan, Yayasan Qoiru Umah.

Sebelumnya, otoritas Turki mendeportasi Nadir dan Mastur, Kamis (6/4). Keduanya bertolak ke Lebanon, pada 4 April 2017. Sesampai di Lebanon terkendala visa dan kemudian dikembalikan ke Istanbul, Turki. Sampai di Istanbul mereka diketahui pernah memasuki daerah perbatasan dengan Suriah sehingga diamankan petugas Imigrasi Turki.

Menurut Rikwanto, setiap deportan yang berhubungan dengan Turki maupun informasi radikal dari pemerintah lain, diberitahukan kepada Densus 88 Antiteror untuk dilakukan pemeriksaan.

"Hasil interogasi keduanya, motivasi masuk ke wilayah perbatasan Suriah terkait misi kemanusiaan, sebagai sukarelawan dari Yayasan Qoiru Umah," jelas Rikwanto.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangare mengungkapkan, Nadir Umar diamankan sesaat setelah turun dari pesawat Air Asia XT 327 penerbangan Kuala Lumpur‑Surabaya di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda, Sabtu, pukul 16.30.

Tak menyimpang

Kabar penangkapan Nadir Umar cepat menyebar. Rumahnya di Kelurahan Krisikan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, tampak sepi. Rumah bercat putih tampak tak berpenghuni. Tidak ada tanda aktivitas apapun di rumah nomor 263 ini. Rumah ini tertutup rapat. Gorden menutupi jendela, gerbang rumah juga digembok.

Di lingkungan rumahnya, Umar dikenal sebagai sosok yang baik. Ia jadi panutan anak‑anak di sekitar rumahnya. "Dia sering menjadi guru ngaji di sini. Mengajarkan Alquran kepada anak-anak kecil," kata tetangga rumahnya, Umar.

Umar mengatakan, Nadir tidak berbuat aneh‑aneh. Menurutnya, Nadir tidak pernah membuat onar atau bahkan perbuatan yang mencurigakan. "Saya pastikan ajaran yang diberikan Nadir tidak menyimpang," terangnya.

Ketua RT 02 RW 03, M Yusuf Bahri mengatakan, rumah itu kosong sejak dua hari lalu. "Saya tidak tahu mereka pergi ke mana. Biasanya mereka pergi tidak lama," katanya.

Yusuf menjelaskan, selama ini Nadir dikenal sangat baik. Nadir sempat membantu proses bantuan untuk pembangunan jalan di Kelurahan Krisikan. "Jalan dis ini yang bangun pemerintah atas bantuan dan masukan Pak Nadir," ungkapnya.

Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Sudiono Fauzan, mengaku kaget saat mengetahui informasi mengenai penangkapan Nadir. "Dia anggota dewan. Tapi saya tidak tahu apa pokok permasalahannya, dan apa penyebabnya," katanya.

Ia menegaskan, kepergian yang bersangkutan ke luar negeri bukan urusan dinas. Artinya, tidak ada agenda DPRD Kabupaten Pasuruan ke luar negeri.

"Bahkan, sekarang kami (anggota DPRD) sedang persiapan untuk finalisasi pengesahan sejumlah perda. Saya rasa itu bukan kepentingan dinas, dan lagi‑lagi saya tidak tahu apa tujuannya ke luar negeri," katanya. (Tribun Network/Surya/lih/coz/den)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved