Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

KISAH! Nenek 97 Tahun Ini Sudah Hidup Bersama Makam Suaminya Selama 20 Tahun

Tepat di bagian ruang kamar mandinya yang berukuran kecil, terdapat makam almarhum suami tercinta. Kata nenek Roni, sudah lebih dari 20 tahun

KOMPAS.com/Ramdhan Triyadi Bempah
Nenek Roni (97), sedang duduk di dalam rumahnya yang terbuat dari bilik bambu, Minggu (16/4/2017). Lebih dari 20 tahun nenek Roni hidup satu atap bersama makam almarhum suaminya, di Kampung Kubang, Desa Banjarwaru, Ciawi, Bogor, Jawa Barat.(KOMPAS.com/Ramdhan Triyadi Bempah) 

TRIBUNJATENG.COM, BOGOR -- Di usianya yang sudah renta, nenek Roni lebih memilih hidup menyendiri di sebuah bangunan yang terbuat dari bilik bambu.

Tepat di bagian ruang kamar mandinya yang berukuran kecil, terdapat makam almarhum suami tercinta. Kata nenek Roni, sudah lebih dari 20 tahun dirinya menjalani hidup dengan keadaan seperti itu.

Nenek Roni sebenarnya punya seorang anak laki-laki yang tinggal di daerah Jambu Luwuk, Tapos, Ciawi, Kabupaten Bogor.

Dia menceritakan, anaknya pernah sempat mengajaknya untuk tinggal di rumahnya.

Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan tidak mau meninggalkan makam suaminya yang tepat berada di dalam rumah.

Selain itu, nenek Roni juga tidak ingin merepotkan anaknya.

"Dulu, sempet tinggal di rumah anak. Tapi nggak betah, segan. Udah betah di sini," ucap nenek Roni, saat Kompas.com berkunjung ke rumahnya, di Kampung Kubang, Desa Banjarwaru, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Minggu (16/4/2017).

Usia nenek Roni kini sudah menginjak 97 tahun. Meski usianya sudah sangat senja, ia masih memiliki semangat untuk hidup.

Demi menyambung hidup, dirinya mengandalkan dagangannya dengan berjualan selai pisang. Satu kilogram selai pisang, dijualnya seharga Rp 12.000.

"Di jual kemana aja selai pisangnya. Kadang, ada yang datang ke rumah beli selai. Dapat pisangnya dari penjual deket sini. Terus dibuat di rumah," tambahnya.

Tempat tinggal nenek Roni sangat sederhana. Dinding dan atap rumahnya terbuat dari bilik bambu. Jika hujan, percikan air masuk ke dalam. Hanya ada satu ruangan untuk tidur, dapur, dan kamar mandi yang satu lokasi dengan makam suaminya.

Kondisi makam suaminya yang berada di dalam rumah itu pun ditutupi dengan beberapa papan kayu. Hal itu ia lakukan agar tidak rusak dan tidak terinjak-injak.

"Di alas kayu supaya enggak rusak aja," katanya.

Di waktu-waktu tertentu, terkadang dirinya teringat mendiang almarhum suaminya. Ia mengatakan, suaminya meninggal disebabkan sakit karena faktor usia.

Nenek Roni pun mengaku ingin menghabiskan masa hidupnya di gubuk sederhananya itu ditemani makam suami tercintanya.

"Udah lama meninggal. Kadang-kadang, masih suka ingat sama suami," ucap dia. (Kontributor Kompas.com Bogor, Ramdhan Triyadi Bempah)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved