OPINI

Menunggu Hasil Retorika Kampanye pada Pilkada DKI

Menunggu Hasil Retorika Kampanye pada Pilkada DKI. Opini ditulis oleh Firstya Evi Dianastiti, Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Islam Kendal

Menunggu Hasil Retorika Kampanye pada Pilkada DKI
tribunnews.com
Menunggu Hasil Retorika Kampanye pada Pilkada DKI Opini ditulis oleh Firstya Evi Dianastiti, Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK) 

Opini ditulis oleh Firstya Evi Dianastiti, Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK)

TRIBUNJATENG.COM - Pilkada serentak tahun 2017 telah dilaksanakan. Dari 101 daerah pelaksana Pilkada di seluruh Indonesia, hanya DKI Jakarta yang melaksanakan Pilkada putaran kedua pada hari Kamis, tanggal 19 April.

Oleh karena itu, wajar saja jika tingginya tensi perpolitikan di DKI Jakarta tak kunjung mereda hingga saat ini. Demi memenangkan Pilkada, dua pasangan calon pemimpin daerah saling mengunggulkan visi, misi, program kerja, serta janji-janji terbaik mereka pada seluruh masyarakat DKI Jakarta. Menariknya, Pilkada DKI Jakarta tak hanya dinikmati oleh warga ibu kota semata, tetapi juga menarik perhatian hampir seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai wadah untuk mengakomodasi para pasangan calon dalam beradu program kerja dan memantapkan keyakinan para pemilih, minggu lalu KPU telah menyelenggarakan forum debat Pilkada putaran kedua. Debat Pilkada itu memang sengaja disiarkan secara langsung (live) oleh stasiun televisi nasional.Pada setiap debat, performa dasar yang selalu ramai dikomentari pendukung adalah ihwal keterampilan berbicara para pasangan calon. Keterampilan berbicara digunakan untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain yang didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar, jujur, benar, dan bertanggungjawab

Firstya Evi Dianastiti, Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Islam Kendal
Firstya Evi Dianastiti, Dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Islam Kendal (TRIBUNJATENG/CETAK/BRAM)

Pada tingkat keterampilan yang lebih tinggi, keterampilan berbicara itu disebut retorika. Namun, kemudian tidak dapat disalahkan ketika retorika yang salah satu makna dalam KBBI V adalah seni berpidato yang muluk-muluk dan bombastis, kemudian lebih condong ke arah penafsiran negatif. Saat mendengar istilah retorika, masyarakat lebih terbayang tentang obral janji-janji yang jamak dilakukan oleh politisi.

Pada ranah politik, beretorika memang menjadi salah satu hal yang wajib dikuasai. Selain sebagai sarana komunikasi efektif, kemampuan beretorika yang mumpuni menjadi senjata untuk melakukan deal-deal politik. Tidak hanya itu, kemampuan beretorika juga merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mewujudkanbranding politik (political branding).

Selain menggunakan media konvensional berupa media cetak dan elektronik, branding politik dapat diciptakan melalui media cyber. Pada media cyber, tidak hanya portal berita yang menjadi sarana, tetapi juga media sosial yang lebih akrab dan menjangkau masyarakat secara langsung. Melalui debat Pilkada yang disiarkan live di televisi nasional ataupun lokal, umpan balik, tanggapan, dan komentar dari masyarakat dapat segera dengan mudah diketahui di berbagai media sosial.

Kebebasan mengutarakan pendapat melalui media sosial ini juga dapat menjadi pisau bermata dua bagi branding politik.Kemampuan beretorika para pasangan calon saat Pilkada dapat ditanggapi berbeda oleh masyarakat umum yang kemudian tersebar luas tanpa bisa dicegah, apakah akan menjadi senjata untuk meyakinkan masyarakat ihwal visi misi dan program kerja, atau justru sebaliknya melemahkan kemampuan pasangan calon dan kemudian masyarakat terlanjur menganggapnya sebagai bualan janji semata. Pada titik inilah peran bahasa dan retorika sangat penting untuk membangun citra diri dan persepsi sehingga timbul keyakinan pada masyarakat pemilih ihwal kualitas dan kredibilitas pasangan calon pemimpin daerah.

Kotler (dalam Wasesa 2005:13) mengutarakan bahwa persepsi merupakan sebuah proses dimana seseorang melakukan seleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasi informasi-informasi yang masuk ke dalam pikirannya menjadi sebuah gambar besar yang memiliki arti.

Bangunan persepsi realitas, dan citra terbentuk oleh kredibilitas. Jika tidak didasari informasi realitas dengan kredibilitas yang tinggi maka hanya akan menghasilkan citra yang lemah. Informasi yang kurang maupun tidak kredibel mengakibatkan munculnya banyak celah yang dapat dilihat oleh publik ataupun lawan yang dapat dengan mudah mengubah citra tersebut menjadi citra yang negatif. Apabila citra negatif telah tersemat, maneuver politik apapun yang dilakukan paslon akan terlanjur dicap sebagai strategi pencitraan yang memang bukan hal baru di dunia politik.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved