Tribun Community

Komunitas Do Something Indonesia Ajak Kampanyekan Aksi Sosial

Seraya menyerukan kepada masyarakat, July dan puluhan sukarelawan lain mengajak mereka untuk menghentikan perilaku intimidasi terhadap berbagai macam

Penulis: faisal affan | Editor: Catur waskito Edy
faisal affan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Ingin berbuat sesuatu demi kebaikan negeri tercinta, komunitas Do Something Indonesia memiliki caranya tersendiri untuk berkampanye. Caranya cukup sederhana. Bikin sebuah tema hastag, lalu menggencarkannya di media sosial.

Berkerumun di depan patung kuda Universitas Diponegoro, Jalan Pahlawan Semarang, komunitas Do Something Indonesia mengadakan kampanye bertajuk 'Kita Indonesia'. Menggunakan kaus serba merah, mereka melakukan long march mengelilingi Jalan Pahlawan dan bundaran Simpanglima saat car free day, Minggu (19/3).

Seraya menyerukan kepada masyarakat, July dan puluhan sukarelawan lain mengajak mereka untuk menghentikan perilaku intimidasi terhadap berbagai macam perbedaan.

Kegiatan terkait momen Hari Anti Diskriminasi itu, July, special agent komunitas Do Something Indonesia mengajak anak muda untuk tidak melakukan intimidasi yang berbau rasial. Special agent merupakan istilah bagi para koordinator komunitas ini.

"Kami ingin anak muda tidak mudah terprovokasi untuk saling mengintimidasi hanya karena berbeda ras, pilihan, keyakinan, agama, pemikiran, dan lain sebagainya. Dari hastag 'Kita Indonesia' ini, bertujuan untuk mempersatukan keberagaman untuk tidak menjadi sebuah perpecahan. Justru dari keberagaman, kita menjadi semakin kuat," tuturnya.

Komunitas Do Something Indonesia ini lebih banyak melakukan kampanye melalui media sosial. Fokus kampanye yang mereka bawa ada delapan isu.

Di antaranya kesehatan, lingkungan, pendidikan, hewan, tempat tinggal, bencana alam, intimidasi, dan hubungan sosial. Dalam melakukan kampanye, mereka selalu memberikan tanda pagar di setiap isu yang akan diangkat.

"Setiap program kampanye memliki masa periodenya. Untuk bulan April ini, kami sedang melakukan kampanye online dengan hastag #wesweetforhappines. Bentuk kampanyenya, dengan melakukan foto selfie bersama orang lain saat berolahraga dan menceritakan keasikannya melakukan olahraga bareng teman," ungkapnya.

Dalam kampanye ini, July berharap hubungan sosial antarsetiap teman maupun orang baru yang mereka kenal, bisa semakin akrab tanpa memandang perbedaan.

July sendiri menjadi special agent dari komunitas ini, sejak September 2016. Ia bertugas untuk mengumpulkan para volunteer di Kota Semarang, untuk ikut serta dalam kampanye-kampanye bersama komunitas Do Something Indonesia.

Sebelum para volunteer ini diajak untuk melakukan kampanye, July terlebih dahulu memberikan sosialisasi melalui community gathering. Selanjutnya, volunteer mendapatkan tugas masing-masing untuk mengajak lebih banyak orang dalam berkampanye.

"Mereka biasanya hanya bergabung dengan komunitas kami saat ada kegiatan kampanye offline. Setelahnya, kami tidak memiliki keterikatan. Memang, mengajak orang lain untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif tidak semuanya bersedia, karena ini merupakan dari panggilan hati," jelasnya.

Dalam melakukan kampanye, komunitas Do Something Indonesia yang bernaung dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa ini, menggunakan cara-cara yang kreatif.

July mengatakan, juga pernah melakukan kampanye "hug challenge" dan "temanku hebat". Mengajak beberapa orang untuk berpelukan bersama dan berfoto, merupakan satu di antara kampanye kreatif yang dilakukannya. Komunitas ini lebih getol melakukan kampanye melalui media sosial, karena dampak yang dihasilkan cepat tersebar luas.

"Kami melihat di era saat ini manusia tidak terlepas dari yang namanya media sosial. Hal apapun akan kita ketahui dari media sosial, sehingga kami lebih fokus berkampanye melalui hal tersebut. Kampanye offline dilakukan apabila saat ada momen tertentu, misalkan yang terakhir tentang tidak mengintimidasi perbedaan, yang berkaitan dengan momen pilkada dan hari anti diskriminasi," tegasnya.

Sasaran kampanye yang dilakukan ini lebih tertuju kepada anak muda, dengan usia yang rentan akan kegiatan negatif maupun positif. Dari apa yang dikatakan July, masa remaja merupakan usia yang krusial untuk masa depan mereka.

"Apabila tidak positif ya negatif, namun lebih cenderung ke negatif. Maka dari itu, dengan adanya komunitas ini, saya harap mereka mulai merubah sikap dan cara pandang mereka terhadap suatu isu tertentu, untuk dibawa ke dalam bentuk yang positif," pungkasnya. (afn)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved