Breaking News:

Siti Nurbaya Tantang PNS Pungut Sampah, Dapat Respon Begini

Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar, memperingati Hari Bumi dengan menanam mangrove di Dukuh Morosari, Bedono, Sayung, Demak, Sabtu (22/4).

Penulis: rival al manaf | Editor: iswidodo
tribunjateng/rival almanaf
Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar, memperingati Hari Bumi dengan menanam mangrove di Dukuh Morosari, Bedono, Sayung, Demak, Sabtu (22/4). 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar, memperingati Hari Bumi dengan menanam mangrove di Dukuh Morosari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Sabtu (22/4).

Setidaknya 40 ribu bibit pohon ditanam di sepanjang pantai utara (Pantura) Jateng. Kegiatan bertajuk Restorasi Pantai Utara Jateng itu melibatkan 14 kabupaten dan kota di Pantura Jateng.

Ditemani Wakil Bupati Demak, Joko Sutanto, Siti Nurbaya Bakar kemudian menancapkan bibit mangrove di Morosari."Pengelolaan mangrove untuk menangkal abrasi. Jika hanya mengandalkan pemerintah tidak akan bisa cepat, berbeda jika kita libatkan masyarakat, organisasi, atau golongan lainnya. Makanya kami libatkan berbagai pihak di sini," jelasnya.

Ia menjelaskan, mangrove memiliki peran sebagai pengatur pasang surut air laut. Keberadaannya juga meningkatkan plankton yang menjadi makanan biota laut.

"Saya miris abrasi menjadi permasalahan di setiap pantai di Indonesia. Dua hal harus kita upayakan bangun pemecah gelombang dan jaga mangrove-nya," tambahnya.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri Paguyuban Kepala Desa dan beberapa PNS tersebut, Siti Nurbaya juga memberi tantangan kepada pegawai pemerintahan untuk mengumpulkan sampah setiap hari.

"Saya apresiasi tadi paparan Pak Wabup bilang PNS di Demak diwajibkan merawat satu pohon. Sekarang saya tantang juga, bisa ndak sehari pungut sampah dan masukan ke bank sampah," tegasnya.

Sementara itu, warga Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, punya cara unik dalam memeringati Hari Bumi. Ratusan warga berkerumun di lapangan Desa Kalilunjar, Sabtu siang (22/4).

Mereka berdiri melingkar menghadap kubangan berbentuk hati, lalu masuk ke kolam itu secara bersamaan. Gerakan sujud syukur mengawali prosesi mandi lumpur. Dahi dan hidung mereka menempel pada air becampur lumpur.

"Warga desa semakin sadar pentingnya menjaga bumi. Karena itu, saya ikut kegiatan ini," kata Siti Khodijah, peserta mandi lumpur.

Acara semakin seru, ketika panitia melempar sejumlah uang koin ke dalam kubangan. Warga pun saling berebut untuk memperoleh uang itu yang hanyut ke dalam lumpur. Mereka saling menyipratkan lumpur ke badang masing-masing. Sebagian peserta nyaris tak dikenali wajahnya karena berlumuran lumpur.

Prosesi tak berhenti sampai di situ. Warga yang sudah kuyup dengan lumpur berkonvoi dengan berjalan kaki menuju kompleks wisata Bukit Asmara Situk, berjarak sekitar 2 kilometer. Di antara mereka menjunjung pot berisi tanaman pucuk merah untuk ditanam di sepanjang jalan desa.

Selain mengampanyekan hari bumi, kegiatan yang diikuti sekitar 500 warga itu dalam rangka mempromosikan desa wisata Kalilunjar dengan objek andalan wisata rumah pohon Bukit Asmara Situk (BAS). (tribunjateng/cetak/val/aqy)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved