OPINI

Isra Mi’raj dan Idealnya Pemimpin Bangsa

Isra Mi’raj dan Idealnya Pemimpin Bangsa. Oponi ditulis oleh Syahrul Kirom, M.Phil, Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta

Isra Mi’raj dan Idealnya Pemimpin Bangsa
tribunjateng/bram
Oponi ditulis oleh Syahrul Kirom, M.Phil, Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta 

Oponi ditulis oleh Syahrul Kirom, M.Phil, Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta

TRIBUNJATENG.COM - Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang tepat jatuh pada hari Senin, 24 April 2017, Kita berharap dengan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT dapat membangun kesadaran religius dan memberikan pencerahan akhlaq dan kepemimpinan yang mulia bagi calon kepala daerah yang menang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2017.

Allama Sayyid Sulaiman Nadwi dalam karyannya “The Life and Message of The Holy Prophet Muhammad” (1977), bahwa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang negarawan yang jujur merupakan cerminan nilai-nilai kepedulian sosial terhadap rakyatnya yang menderita kelaparan, pengangguran, kemiskinan.

Tak salah kiranya, jika Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT untuk mengajarkan umatnya shalat wajib 5 waktu dalam sehari. Dalam shalat itu tercermin perbuatan mencegah dari yang mungkar. Seperti berbohong, menipu, berbuat korupsi, dan tindakan kejahatan lainnya. Karena itu, sikap kejujuran dalam berpolitik, kesabaran, kesederhanaan dan menepati janji-janji politik seperti janji rumah DP 0 persen.. Harus dipenuhi janjinya. Janji itu adalah hutang.

Meski demikian, yang perlu ditauladani adalah sepak terjang Nabi Muhammad SAW dalam memimpin bangsa dan negaranya yang selalu dilambari dengan sifat-sifat religius yang baik dalam melakukan silaturahmi politik, dengan selalu mengedepankan nilai-nilai tawadhu dan zuhud untuk selalu mengingat Allah SWT serta memegang teguh ajaran Islam. .

Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia yang tidak melakukan tujuan politiknya untuk kepentingan nafsunya sendiri, tetapi apa yang dilakukannya demi kemaslahatan umat manusia, kesejahteraan dan kemakmuran umatnya. Karena itu, menahan nafsu dari sesuatu yang tidak halal seperti menahan nafsu, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), pemerasan, mengambil hak orang lain, menjadi bagian dari sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang selalu dihindari.

Dalam konteks perpolitikan bangsa Indonesia. Kita seringkali melihat perilaku calon kepala daerah yang baru terpilih dalam pilkada, terkadang susah sekali untuk menepati janji-janji politiknya, di antara dengan peduli menyejehaterakan rakyat daerah, memperbaiki infrstruktur, memperhatikan nasib nelayan, petani dan wong cilik.

Karena itu, calon kepala daerah nantinya terpilih itu harus memilikis sifat amanah dan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sikap kejujuran, mensejahterakan rakyatnya. Tanggung jawab merupakan salah satu sikap dan perilaku yang wajib di miliki setiap calon kepala daerah 2017dalam aktivitas dan kegiatan yang dilakukannya untuk program lima tahun kedepannya. Tanggung jawab adalah prinsip-prinsip moral yang sesungguhnya harus diterapkan oleh calon kepala daerah.

Terkadang, banyak calon pemimpin gubernur dan wakil gubernur yang tidak memiliki tanggung jawab (unresponsibility), ketika seseorang itu diserahi suatu amanah dan tanggung jawab sebagai pemimpin daerah, sebaliknya menyelewengkan kekuasaan. Lebih parahnya,, jika para gubernur dan wakil gubernur tidak pernah memikirkan nasib wong cilik dalam segala aspek kehidupan.

Bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Kita merasa terikat untuk menyelesaikanya, demi tugas itu sendiri. Sikap itu tidak memberikan ruang pada pamrih kita. Karena kita terlibat pada pelaksanaannya, perasaan-perasaan seperti malas. Kita dituntut untuk melaksanakannya sebaik mungkin, meskipun dituntut juga pengorbanan yang berat atau kurang menguntungkan atau ditentang oleh orang lain.

Karena itu, calon kepala daerah yang terpilih sebagai kepala daerah tahun 2017 ini, Mereka harus belajar dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin umatnya. Pertama, calon kepala daerah harus selalu mentauladani sikap-sikap kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, dengan selalu mengedepankan nilai-nilai fundamental ajaran Islam, bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT. Itu semua dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW hanya semata-mata sebagai khalifah di muka bumi untuk beribadah kepada Allah SWT.

Kedua, calon kepala daerah harus mempunyai prinsip seperti Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat dan bangsa. Tugas dan jabatan yang kita miliki adalah amanah yang harus dikerjakan dengan baik dan bertanggung jawab. Meminjam analisis Haryatmoko, politisi yang baik adalah jujur, santun, memiliki integritas, menghargai orang lain, menerima pluralitas, memiliki keprihatinan untuk kesejahteraan umum. Sehingga, sang politisi yang menjalankan etika politik adalah negarawan yang mempunyai keutamaan-keutamaan moral. Dengan begitu, perbaikan dan kemajuan masyarakat Jateng dapat tercapai.

Ketiga, calon kepala daerah harus memiliki prinsip berpolitik seperti Nabi Muhammad, yakni setiap kebijakan dan keputusan yang diambil demi kemaslahatan agama dan umat. Selain itu, mereka harus menegakkan keadilan dan hukum kepada masyarakat Indonesia. Melainkan juga, selalu mengamalkan prinsip musyawarah dan tidak boleh berlaku diktator serta menepati janji-janji politiknya.

Dengan demikian, pada momentum peringatan Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW, sang pemenang calon kepala daerah sudah seharusnya bisa memberikan sikap-sikap politik yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sehingga paradigma politik yang selama ini dianggap penuhkebohongan, kotor, curang, menipu dan penuh kemunafikan dapat diubah menjadi paradigma politik yang amanah, tabligh, fathonah, bersih, adil, tidak memihak kelompoknya dan penuh pengabdian kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Semoga. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved