FOCUS

Ziarah dan Pesan Kematian

Ziarah, sejatinya sudah sangat jelas, bahwa tradisi ini mengajarkan kepada kita semua agar tidak melupakan mati

Ziarah dan Pesan Kematian
RAJIV 

TRIBUNJATENG.COM - Tak lama lagi, Puasa Ramadan tiba. Pemerintah pun, telah menyiapkan berbagai langkah menyambut Ramadan. Mulai dari antisipasi kenaikan harga pangan, hingga menyiapkan jalur mudik menyambut Lebaran lewat jalur tol baru.

Namun, bukan hal itu yang akan saya bahas, melainkan ziarah kubur. Ya, ziarah kubur seolah sudah menjadi tradisi umat Islam dalam menyambut bulan suci yang sangat ditunggu ini.

Lihat saja, beberapa tempat makam, sudah mulai banyak dikunjungi peziarah.Mereka rata-rata nyekar (menabur bunga) ke makam orang tua, keluarga, kerabat, maupun yang lainnya. Biasanya, tradisi nyekar ini akan mencapai puncaknya pada H-1 datangnya Ramadan. Dan, tempat makam akan kembali ramai dikunjungi para peziarah saat Lebaran.

Ziarah ke makam menjelang Ramadan memiliki nilai pesan moral yang sangat tinggi. Selain untuk mengingatkan diri kita akan kematian, juga bisa menjadi ajang untuk mengenang kenangan masa lalu dari para pendahulu kita yang telah tiada.

Ya, tidak ada salahnya kita sejenak meninggalkan rutinitas kesibukan, untuk ziarah ke makam orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita, meski itu jauh.

Ziarah, sebenarnya bila dihayati secara mendalam, memberikan pesan yang sangat kuat kepada kita akan datangnya sebuah kematian bagi kita semua. Namun, sayang, terkadang ziarah banyak disalahartikan. Ada yang berziarah untuk mencari berkah, ditambah kekayaannya, dimudahkan jodohnya, dan lain sebagainya dan seterusnya.Hal seperti itu jelas sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah, sebab bisa menjadikan orang perilaku khurafat yang berujung pada kemurtadan.

Sebagai makhluk hidup, kita pasti mati. Pesan itu sudah sangat jelas. Namun, seringkali kita jumpai, orang ingat akan mati ketika umur sudah tua. Padahal, kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja: tidak kenal usia.

Pesan Rasulullah sangat jelas: salatlah (beribadah) kamu seolah-olah kamu akan mati besok dan carilah uang sebanyak-banyaknya seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Tetapi, pada praktiknya, banyak umat Islam lupa atau sengaja melupakan pesan tersebut. Sebab, kebanyakan umat Islam, justru lebih banyak mencari uang dan tidak ingat Tuhan.Artinya, dalam mencari uang, sudah tidak ingat lagi mana yang halal dan haram. Semua dilibas demi memperkaya diri dan tidak ingat lagi akan kematian. Tuhan dilupakan, ibadah justru dianggap sebagai penghalang untuk mencari uang.Naudzubillah!

Ziarah, sejatinya sudah sangat jelas, bahwa tradisi ini mengajarkan kepada kita semua agar tidak melupakan mati. Di mana, harta yang kita kumpulkan dengan berlipat-lipat, tak akan di bawa mati dan tidak bisa untuk menebus agar kematian kita ditunda.Begitu juga jabatan yang kita miliki, tak akan mampu mencegah kita dari kematian.

Tetapi, pesan kematian dari tradisi ziarah, tampaknya belum mampu menyadarkan kita semua akan datangnya kematian dan siksa kubur yang konon kata para ustadz sangat pedih. Terbukti, kematian bukan menjadi sebuahwarningyang menakutkan untuk mencegah terjadinya tindak korupsi, pejabat yang tak jujur, PNS yang suka keluyuran ke mal atau datang terlambat kerja, dan sebagainya dan seterusnya. Sebab, hingga kini, masih banyak kita jumpai pejabat yang tak jujur, PNS yang tak disiplin, aparat penegak hukum yang korup dan menyalahgunakan kewenangannya. Dengan dalih demi kepentingan rakyat, tak sedikit wakil rakyat terhormat malah nilep uang rakyat.Ingin melindungi masyarakat, malah memeras masyarakat.

Semoga saja, Ramadan tahun ini akan mampu menyadarkan kita semua, betapa hidup ini tak harus dijalani dengan cara-cara yang kotor. Ramadan akan mengingatkan, betapa waktu begitu singkat dan berharga. Dan, yang lebih penting lagi untuk direnungkan, bahwa siapa tahu Ramadan tahun depan kita sudah tiada....selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita termasuk orang-orang yang tercerahkan! (Rustam Aji/Editor Tribun Jateng)

Penulis: rustam aji
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved