FOCUS

Waisak, Pancasila, dan Kebinekaan

Perayaan Waisak 2561/2017 yang sakral dan penuh makna mengajari umat untuk tetap konsisten memelihara persatuan, baik secara internal maupun eksternal

Waisak, Pancasila, dan Kebinekaan
igy

TRIBUNJATENG.COM - Kamis (11/5) kemarin, umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2561/2017. Perayaan tersebut digadang benar-benar bisa menjadi momentum untuk merefleksikan diri dalam hal berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Dalam kesucian Waisak, umat diajak menyadari bahwa sebagai bagian dari integral bangsa harus ambil bagian dalam segala tugas lewat balutan patriotisme nan kuat. Umat pun diimbau selalu mawas diri terhadap kondisi dan nasib negeri ini.

Perayaan Waisak 2561/2017 yang sakral dan penuh makna mengajari umat untuk tetap konsisten memelihara persatuan, baik secara internal maupun eksternal. Tujuannya satu: memaslahatkan sesama serta menjaga keutuhan NKRI.

Waisak adalah kebahagiaan, cinta kasih, bukan tercakup sempit umat Buddha, melainkan pula seluruh manusia. Waisak merupakan sarana untuk menilai sikap, apakah seseorang sudah mencapai tingkat bisa menghargai serta menghormati perbedaan.

Merenungi esensinya, pantaslah malu jika sebagai warga yang beradab, sekarang kita justru ikut mengancam kebinekaan yang diwariskan oleh nenek moyang. Praktik eksklusivisme mengalahkan yang lain, bak drama berseri minim kualitas, tetapi berating tinggi.

Seorang pria renta yang duduk di bangku reot sebuah warung pinggiran jalan di pusat Kota Semarang lalu mengaitkannya dengan upaya penggerogotan Pancasila. Saya lupa, siapa namanya, yang jelas lansia itu merasa waswas dengan posisi terkini ideologi bangsa.
Sepengetahuannya via media maupun informasi dari mulut ke mulut, Pancasila tengah dirongrong. Maka, secara lantang, ia kemudian berkata --seolah menasihati-- kepada pembeli lain yang nongkrong di warung tersebut.

Melalui internalisasi, urainya, pendalaman dan perluasan ideologi serta nilai demokrasi Pancasila adalah perjuangan para pendahulu dalam bekerja menyelesaikan tahap transisi dan konsolidasi. Tanpa Pancasila, ia menyebut, negara ini tak akan pernah ada.

Menyambung obrolan sang kakek, saya lantas teringat penuturan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Sadifuddin, akhir pekan lalu. Secara tegas, ia mengatakan bahwa sampai kapan pun dasar negara Indonesia adalah Pancasila.

Lukman mengemukakan, di Nusantara nan elok ini, tidak boleh ada organisasi yang menentang ketetapan. Apabila terdapat pihak yang berupaya mengubah Pancasila, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menentangnya.

Bukan paduan suara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy, tak lupa menyampaikan imbauan sebagai rentetan persoalan Pancasila dan kebinekaan. Kepada para guru, ia meminta supaya memberi teladan sikap menghargai keberagaman.

Lebih-lebih, dalam Pasal 4 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diatur bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi kemajemukan bangsa.

Ia sekaligus mendorong para pendidik agar menyampaikan pencerahan kepada siswa tentang ke-Indonesiaan yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, bangsa berharap, ke depan tidak lagi ada tindakan intoleran di sekolah.

Seperti ajakan kepada umat Buddha supaya tidak boleh bersifat eksklusif, merawat kebinekaan dalam kebersamaan kini mutlak dibutuhkan. Masyarakat jangan mudah dipecah-belah. Hindari egosentrisme demi derajat bangsa yang lebih baik. (Sigit Widya/Editor Tribunjateng)

Penulis: sigit widya
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved