Kisah Mak Parti, Nenek 72 Tahun Penjual Gerabah di Dugderan. Tidur pun di Lapak di Pinggir Jalan

Dengan dibantu satu cucunya, Mak Parti, sapaan akrab Parti, menjajakan gerabah di Jalan Kolonel Sugiono, Semarang

Editor: muslimah
Tribun Jateng/Rifqi Gozali
Mak Parti saat menjajakan gerabah di arena dugderan, Semarang, Rabu (24/05/2017). 

Laporan wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bagi Parti, nenek asal Mayong, Jepara, usia senja rupanya tak jadi alasan untuk duduk manis di rumah, menikmati masa tua bermain dengan cucu.

Ia merelakan tubuh rentanya untuk berjualan gerabah di arena dugderan, Semarang.

Dengan dibantu satu cucunya, Mak Parti, sapaan akrab Parti, menjajakan gerabah di Jalan Kolonel Sugiono, Semarang.

Mengenakan kemeja kotak-kotak hitam, bawahan sarung, Rabu (24/05/2017) siang, Mak Parti tampak duduk tenang di lapaknya menanti pembeli.

Sengatan panas sinar matahari, dinginnya udara malam tak menggemingkan niatnya berjualan. Bahkan ia mengaku, saat malam nenek itu tidur di lapaknya.

"Mau tidur dimana lagi, ya di sini," kata Mak Parti.

Di depan nenek itu, berbagai macam barang olahan dari tanah liat tertata rapi. Mulai dari yang berukuran kecil hingga besar. Celengan lucu berbentuk hewan, tokoh wayang, dan tokoh kartun berderet di depannya.

Harganya yang ia patok variatif. Yang kecil, kata Mak Parti, Rp 2 ribu. Untuk yang celengan besar warna-warni ia patok dari Rp 10 ribu hingga Rp 35 ribu.

Tepat di belakang ia duduk, terdapat tumpukan bantal dan selimut guna menghangatkannya saat terlelap di malam hari.

Nenek berusia 72 tahun itu sudah rutin berjualan di kawasan dugderan. Bahkan ia sampai lupa, kapan mulai berjualan gerabah musiman di Semarang.

"Wah lama banget. Sejak saya belum punya anak, kalau dugderan pasti jualan gerabah," kata Mak Parti sembari mengingat-ingat kapan ia mulai jualan.

Ia akan kembali ke kampung halaman nanti Ramadan hari pertama. "Kan dugderannya sudah selesai. Ya saya pulang," kata dia.

Ia mengaku, agar tak kerepotan saat pulang nanti, barang dagangannya yang masih tersisa diangkut pikap untuk dibawa pulang.

Menurutnya, banyak kawan dari kampung yang sama ikut berjualan gerabah. "Nanti pulangnya bisa rombongan," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved