Ramadan 2017

Bolehkah Tidak Puasa Saat Perjalanan Umrah?

Salam Tribun dan Pak Ustadz. Alhamdulillah, pertengahan Ramadan nanti kami berkesempatan untuk beribadah umrah. Bagaimanakah waktu menjalankan puasa,

Bolehkah Tidak Puasa Saat Perjalanan Umrah?
AFP
Bolehkah Tidak Puasa Saat Perjalanan Umrah? 

TRIBUNJATENG.COM - Salam Tribun dan Pak Ustadz. Alhamdulillah, pertengahan Ramadan nanti kami berkesempatan untuk beribadah umrah. Bagaimanakah waktu menjalankan puasa, terutama saat berbuka nanti, mengingat kami melakukan penerbangan dalam kondisi berpuasa. Apakah berpuasa dan berbuka mengikuti waktu setempat?

Jawaban : Penanya yang kami hormati.

Pada dasarnya puasa boleh dibatalkan dan mengganti (qadha') pada hari lain di luar bulan Ramadan jika ada suatu udzur seperti melakukan perjalanan jauh mencapai jarak diperbolehkannya meringkas (qashar) shalat. Hal tersebut disebut dengan keringanan (rukhshah)..

Jika berkehendak, orang tersebut boleh tak berpuasa. Akan tetapi bagi yang kuat untuk menjalankannya dalam perjalanan, lebih baik berpuasa. (I’anatu Tholibin juz 2 hal. 425, Darul Kutub Islamiyyah)

Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, perlu kami jelaskan bahwa puasa Ramadan adalah ibadah wajib yang berkaitan erat dengan waktu. Hari apa kita memulai puasa, kapan berakhirnya, kapan mulai menahan diri dari sesuatu yang membatalkan dan kapan kita mulai boleh berbuka, semuanya berhubungan dengan waktu. Waktu yang berkaitan erat dengan puasa sangat dipengaruhi oleh perbedaan tempat. Sering kita dengar bahwa awal Ramadan di Indonesia berbeda dengan awal Ramadan di Arab Saudi.

Seandainya seseorang berpuasa bepergian ke tempat yang jauh dari tempat asalnya, maka ia menyesuaikan penduduk tempat tujuan dalam puasanya. Dan jika orang yang berpuasa telah menyelesaikan puasanya sebulan penuh, kemudian bepergian ke tempat yang jauh yang penduduknya masih menjalankan puasa, maka ia wajib menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa.

Dan jika orang yang masih dalam keadaan berpuasa berpergian ke suatu tempat yang jauh yang penduduknya telah merayakan Idul Fitri, maka ia juga ikut merayakannya dan meng-qadha puasanya jika puasa yang telah dilaksanakannya kurang dari 29 hari.

Hukum ini tidak hanya khusus untuk puasanya, tetapi berlaku juga pada yang lain, seperti waktu berbuka sampai waktu salat. Hingga seandainya ia salat Maghrib di suatu tempat, lalu bepergian ke suatu negeri dan didapatinya matahari belum tenggelam, maka shalatnya wajib diulang. (Kasyifatus Saja hal. 119, Haramain)

Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat. Terima kasih.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

KH Fadlullah Turmudzi
Pengasuh Pondok Pesantren
APIK Kaliwungu Kendal

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved