Ramadan 2017
MEGENGAN, Haryo Penangsang Mbalelo di depan Masjid Agung Demak
Di Demak, tradisi menyambut Ramadan disebut Megengan, di Kudus ada Dandhangan, dan Jepara biasa dikenal dengan Baratan.
Penulis: rival al manaf | Editor: iswidodo
Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Setiap daerah memiliki tradisi untuk menyanbut Ramadan. Jika di Semarang ada kegiatan Dugderan, Demak juga memiliki agenda lain.
Pada dasarnya, beberapa kegiatan menjelang Ramadan di beberapa daerah kurang lebih sama. Festival jajanan, kesenian, biasanya menjadi menu utama dalam kegiatan tersebut.
Di Demak, tradisi menyambut Ramadan disebut Megengan, di Kudus ada Dandhangan, dan Jepara biasa dikenal dengan Baratan.
Megengan di Demak dipusatkan di depan Masjid Agung, Demak. Puncak acaranya digelar pada Jumat (26/5/2017) lalu dengan berbagai pentas kesenian.
Meski demikian, para penjual jajanan masih bisa ditemui di depan Masjid Agung Demak menjelang buka puasa.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Rudi Santosa menjelaskan Megengan bermakna menahan.
"Jadi intinya kegiatan ini akan mengantarkan kita pada bulan dimana umat muslim diwajibkan menahan hawa nafsu," jelas Rudi.
Ia memaparkan dalam puncak acara ditampilkan kesenian sendratari Haryo Penangsang Mbalelo. Tarian yang dipentaskan oleh sanggar seni Sae Budoyo itu melibatkan lebih dari 100 orang dalam penampilannya.
"Penarinya saja ada seratus, belum pemain musiknya, ini mengisahkan tentang kisah Haryo Penangsang, di Kerajaan Demak," beber Rudi.
Selain sendratari itu ada juga tari Zipin, tarian Suko-suko Megengan, pentas rebana dan aneka kesenian lain.
"Untuk pedagang kaki lima yang terlibat dan menyajikan makanan jumlahnya juga 100 buah mereka menjual makanan khas sate keong, nasi doreng, jamu coro, ada juga berbagai permainan tradisional dan berbagai produk UMKM," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/megengan-di-depan-masjid-agung-demak_20170528_163337.jpg)